
SURIAH “bagai orang yang terjatuh, terimpit tangga”, tidak habis-habisnya dirundung konflik berdarah diawali sejak perlawanan massa terhadap pemerintah di tengah euforia gerakan “musim semi Arab“ pada 2011.
Aksi damai melawan Presiden Bashar al-Assad yang mulai digelar pada Maret 2011 berubah menjadi tragedi perang sipil melibatkan negara-negara di kawasan dan “pemain” global: Amerika Serikat dan Rusia.
Bashar sendiri menggantikan kedudukannya ayahnya, Hafez Al-Assad pada 2000 yang berkuasa dengan tangan besi selama hampir tiga dekade (1971 – 2000) sebagai presiden Suriah.
Diperkirakan sekitar 350-ribu orang tewas, puluhan ribu luka-luka dan jutaan mengungsi, tidak saja ke wilayah tetangganya, tapi juga ke daratan Eropa sejak konflik yang sudah memasuki tahun ke-delapan itu. Ribuan diantaranya tenggelam atau terdampar, tidak pernah mencapai tujuan.
Suriah yang menjadi salah satu kekuatan negara-negara Arab melawan Israel terutama dalam dua perang besar yakni Perang Enam Hari 1967 dan Yom Kippur 1973 secara insidentil sampai hari ini juga masih terlibat pertempuran dengan musuh bebuyutannya itu.
Saat diproklamasikannya Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pada 1999, wilayah al-Raqqah yang dijadikan basis operasi kelompok tersebut di Suriah juga porak-poranda digempur oleh pasukan koalisi yang akhirnya berhasil menumpasnya.
Ironisnya, pihak-pihak yang bertikai di Suriah maupun kekuatan regional dan global bersatu menghadapi NIIS yang semula ingin mendirikan negara khilafah di Irak dan Suriah.
Hancurnya seluruh kekuatan NIIS baik di Irak dan Suriah pada akhir 2017 membuat para pemain kawasan dan global kembali mengendepankan kepentingan masing-masing di Suriah.
Iran yang mendukung rezim Bashar al-Assad menempatkan Garda Revolusi dari satuan al-Quds dan juga milisi binaanya di Lebanon, Hesbollah di wilayah Suriah untuk melancarkan operasi melawan Israel.
Sementara Turki yang juga berada di kubu Bashar al-Assad ikut bergabung melawan NIIS daan saat ini menanti waktu yang pas untuk menyerbu kelompok separatis milisi YPG Kurdistan di kota Manbij, timur laut Suriah.
YPG adalah kelompok milisi perpanjangan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang oleh Turki karena dicap sebagai teroris dan selama ini mengobarkan aksi pemisahan diri dari negara itu.
Namun pasukan Turki yang sudah digelar di tapal batas Turki – Suriah masih menahan untuk tidak menyerbu Manbij karena disana masih ada sekitar 2.000 pasukan AS yang semula hadir untuk memerangi NIIS.
Presiden AS Donald Trump sudah menyatakan akan menarik pasukannya dari wilayah Manbij karena tugas mereka memerangi NIIS di wilayah tersebut dianggap sudah selesai.
Rencana penarikan pasukan AS dari Manbij, tentu saja disambut baik oleh Turki, karena hal itu bakal membuatnya leluasa mengejar YPG, sebaliknya membuat cemas YPG yang harus menghadapi sendiri kekuatan Turki yang juga anggota NATO itu.
Dari sisi pemain global, Rusia menganggap rezim penguasa Suriah selain sobat kental, juga mitra strategis, dimana negara beruang merah itu menempatkan armadanya di Pangkalan AL di Tartus dan juga pesawat-pesawat tempurnya di pangkalan udara Khmeimin dekat kota Latikia.
Israel Serang Iran
Perkembangan terakhir, sejak 30 Januari Israel melancarkan sejumlah serangan udara ke posisi-posisi satuan Iran dan Hezbollah serta pusat-pusat pengoperasian pesawat-pesawat nirawak (drone) untuk mengusik wilayah Israel.
Sistem pertahanan udara Suriah yang dilengkapi rudal-rudal S-300 Rusia dilaporkan mampu merontokkan sejumlah rudal-rudal Israel, namun demikian dilaporkan 12 tentara Suriah dan delapan tentara Iran terbunuh, serta sejumlah fasilitas pangkalan rusak.
Panglima AU Iran Amir Ali Hazizadeh seperti dikutip TV AlJazeera menyatakan pihaknya siap berperang dengan Israel dan menghadapi kemungkinan terburuk.
Hal senada disampaikan Panglima Garda Revolusi M. Ali Jafari yang mengemukakan bahwa negaranya tetap akan mempertahankan penasehat militernya di Suriah.
Iran (negara dengan kekuatan militer ke-21 terbesar dunia) dan Israel (ke-15) yang sejauh ini terlibat insiden kecil-kecilan saling ancam akan menihilkan satu dan lainnya, sehingga mungkin saja konflik di wilayah Suriah akan menyeret kedua seteru bebuyutan ini ke medan perang terbuka. (AP/AFP/Aljazeera)




