
GRESIK – Proses pemakaman jenazah warga di Gorekan Lor, sebuah dusun di Desa Cermen Lerek, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik berbeda dengan di wilayah lainnya.
Meski terpencil, namun Dusun Gorekan Lor juga sangat akrab dengan nama gotong royong dan tolong menolong. Tidak terkecuali saat ada tetangga yang meninggal dunia. Semua warga di sana, siap mengerahkan tenaga memabantu segala proses pengurusan jenazah, hingga dikuburkan.
Namun untuk proses penguburan, menjadi proses tersulit dari seluruh rangkaian pengurusan jenazah di sana karena setiap jenazah yang hendak dikuburkan, harus dihanyutkan terlebih dahulu melintasi aliran Kali Lamong, sebelum mencapai Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gorekan Lor.
“Jenazah biasanya disebrangkan menggunakan semacam perahu buatan. Perahunya dibuatkan kadang dari pohon pisang, kadang menggunakan ban bekas,” ujar salah seorang warga, Agus Setiawan (34) kepada Republika, Jumat (15/2/2019).
Berdasarkan pengakuan Agus, praktik tersebut sudah dijalankan warga sekitar selama berpuluh-puluh tahun. Itu tak lain karena tempat pemakaman dan tempat tinggal warga, terpisahkan Kali Lamong. Praktik tersebut terpaksa dilakukan lantaran tidak adanya jembatan yang menghubungkan kedua tempat dimaksud.
“Sebenarnya bisa saja lewat jalur darat. Tapi jaraknya jauh, bisa sampai 7 kilometer. Melewati dua kecamatan, yaitu Kecamatan Benjeng, dan Kecamatan Cerme,” ujar Agus.
Menghanyutkan jenazah menyeberangi Kali Lamong bisa dikatakan berbahaya, tidak saja bagi jenazah, tapi juga bagi mereka yang menyeberangkannya karena saat musim penghujan, air meluap. Sehingga lebar kali bisa mencapai 20 meter dengan kedalaman kurang lebih 10 meter.
Setelah berhasil melewati Kali Lamong, jenazah masih harus digotong melintasi perkebunan, sebelum benar-benar tiba di tempat pemakaman. Namun, bagi Agus dan warga sekitar, praktik tersebut tidak lah sulit. Itu tak lain karena warga masyarakat di sana, selalu siap bergotong royong, kapan pun dibutuhkan.
“Kalau saat kemarau sih lebih mudah karena bisa melewati kali tanpa perlu perahu buatan. Paling kalau kemarau, airnya kan surut. Paling lebarnya juma 3 meteran, terus dalemnya sepinggang,” kata bapak dua anak tersebut.
Kepala Dusun Gorekan Lor, Matjuari mengaku, warga sekitar sudah berkali-kali mengusulkan pembangunan jembatan di sana. Bahkan sempat mengusulkan agar dana desa dialokasikan untuk pembangunan jembatan tersebut. Namun, kata dia, setelah dihitung-hitung, dana desa yang tersedia, tidak akan cukup untuk pembangunan jembatan di sana.
“Ya sekarang kalau dana desa dikesiniin, tidak akan bisa membangun yang lainnya. Terus pembangunan jembatan ini dianggapnya bukan priorits, artinya masih ada pembangunan lain yang dianggap pemerintah desa lebih prioritas,” kata Matjuari.




