PRESIDEN Korea Utara Kim Jong Un dilaporkan sudah meninggalkan ibukota negara itu, Pyongyang, Sabtu sore (23/2) menggunakan KA kepresidenan menempuh jarak 4.500 KM menuju Hanoi, Vietnam.
Kim dijadwalkan untuk kedua kalinya bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Rabu dan Kamis ( 27 dan 28 Februari) untuk membahas kelanjutan isu denuklirisasi yang juga diangkat dalam pertemuan pertama di Singapura, Juni, 2018.
Kereta bewarna hijau kusam dengan 21 gerbong dilengkapi ruang konferensi, jamuan makan dan kereta untuk tidur melaju dengan kecepatan 45/jam km di wilayah Korut, kemudian memasuki wilayah Cina yang memiliki jalur KA lebih baik dengan kecepatan 80 Km.
Setibanya di kota Dong Dang di wilayah perbatasan dengan China, dijadwalkan, Senin pagi, perjalanan Kim dan rombongan kemungkinan bersambung dengan kendaraan darat menuju Hanoi yang berjarak 170 km.
Delegasi Kim a.l. terdiri dari Menhan No Kwang Chol, Menlu Ri Yong Ho, saudara perempuannya, Kim Yo Jong dan juru runding, mantan Kepala Intelijen Kim Yong Chol akan menginap di Hotel Sofitel Legend Metropole, Hanoi. Isteri Kim, Ri Sol Ju kali ini tidak ikut.
Walaupun berhasil mengukir sejarah – untuk pertama kali kedua pemimpin negara yang saling berseteru sejak Perang Korea, Juni 1951 sampai Juli 1953 itu bertatap muka – tidak banyak kemajuan yang dicapai pasca pertemuan Singapura.
Bahkan keduanya disebut-sebut kecewa. Kim merasa telah berbuat banyak demi perdamaian, dengan menghancurkan situs-situs ujicoba nuklir dan rudal yang sebelumnya gencar dilakukan.
Untuk semua “kebaikan” yang dilakukannya, Korut sebenarnya berharap, sebagai imbalannya, AS akan melonggarkan sanksi embargo ekonomi yang dikenakanya.
Sebaliknya, AS menganggap apa yang dilakukan Korut tidak cukup, dan meyakini masih ada situs-situs ujicoba nuklir yang disembunyikan atau dipindahkan secara diam-diam.
Menjelang pertemuan Hanoi, kedua pemimpin lagi-lagi mengumbar janji, akan memanfaatkan momen pertemuan mereka untuk melanjutkan proses perdamaian.
Pertemuan kedua Kim dan Trump di Hanoi yang akan diliput 2.600 jurnalis dari berbagai penjuru dunia akan membuktikan tulus tidaknya tekad mereka mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea. (AP/AFP/Reuters/ns)





