Eskalasi Konflik Israel – Palestina di Jalur Gaza

I

BERBICARA tentang konflik Timur Tengah, tidak lepas dari persoalan yang tidak pernah sepi sejak terbentuknya negara Israel yang memicu eksodus bangsa Palestina pada 1948.

Eskalasi konflik meningkat lagi menyusul serangan tiga roket ke wilayah Israel, salah satunya menghantam rumah penduduk di utara ibukota negara Yahudi itu,Tel Aviv, melukai tujuh penghuninya Selasa lalu (26/3).

Serangan roket Palestina kali ini dianggap serius, tercermin dari dipercepatnya lawatan PM Israel Benjamin Netanyahu di Amerika Serikat.

Selain rawan karena menjelang Pemilu Israel, 9 April, roket-roket yang ditembakkan Palestina, jarang menjangkau Tel Aviv karena biasanya dihadang sistem pertahanan anti rudal dan roket “Iron Dome” (Kubah Besi) termasuk menggunakan rudal-rudal anti rudal Patriot buatan AS.

Seperti biasanya, apakah serangan roket Palestina menimbulkan korban atau tidak, Israel selalu meresponsnya dengan serangan balik yang lebih mematikan. Kali ini, serangan balik Israel dilaporkan merusak kamp militer Hamas dan melukai sejumlah personil.

Palestina sendiri dikenal sebagai bangsa pantang menyerah, melakukan perlawanan mulai dari gerakan intifada bersenjatakan ketapel dan batu , menerbangkan layang-layang dilengkapi bom-bom Molotov yang bisa memicu kebakaran atau meluncurkan roket-roket sederhana.

Sampai Rabu (27/3), saling balas antara serangan roket Hamas yang menghantam kota Ashkelon, wilayah Israel dekat Jalur Gaza dan serangan balik pesawat-pesawat tempur Israel dilaporkan masih terjadi.

Akan Bertindak Lebih Jauh
PM Netanyahu mengingatkan, pihaknya akan bertindak lebih jauh lagi untuk melindungi rakyatnya, sedangkan Kastaf AB Israel Letjen Aviv Kohavi menyebutkan, pasukannya akan mengesampingkan gencatan senjata yang dimediasi Mesir dan menyiapkan diri untuk bertempur.

Sebaliknya, Jubir Hamas mengingatkan, faksi-faksi di organisasinya tetap komit untuk bersikap tenang (maksudnya tidak menyerang-red) sepanjang Israel juga patuh pada kesepakatan.

Sejak ditandatanganinya perjanjian Camp David antara Mesir dan Israel pada September 1978, perjuangan militer negara-negara Arab melawan otoritas Jahudi itu praktis melemah.

Insiden bersenjata memang masih berlangsung secara sporadis berupa serangan roket Hamas dari Tepi Barat ke wilayah Israel atau serangan roket milisi Hisbollah Iran dari wilayah Suriah atau balas-membalas tembakan artileri Suriah ke Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel.

Konflik Timur Tengah bak api dalam sekam karena sikap Israel yang tidak berniat mematuhi resolusi PBB untuk mengembalikan wilayah Palestina di Jerusalem Timur, Tepi Barat dan Jalur Gaza serta Dataran Tinggi Golan, Suriah yang dicaploknya pada Perang Enam Hari 1967.

Eskalasi konflik kali ini dicemaskan bakal berkembang menjadi konflik terbuka di Jalur Gaza. (AFP/Reuters/ns)

Advertisement