
HOAKS di dunia maya semakin bersliweran menjelang pesta demokrasi seperti terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017 dan kini menyongsong Pilpres dalam Pemilu Serentak, 17 April 2019.
Yang mencemaskan, hoaks memuat narasi kebencian dan fitnah dengan mengangkat isu SARA yang sensitif jika tidak dihentikan, bisa memecah-belah persatuan bangsa yang dengan susap payah diperjuangkan oleh para pendahulu.
Hoaks semakin menjadi-jadi karena aparat kepolisian kesulitan melacak jutaan postingan satu persatu, akibat begitu mudahnya orang membagikan atau mensharing postingan yang diterimanya tanpa menyaring manfaat dan mudharatnya.
Ada orang yang tanpa memahami postingan yang diterimanya, langsung mengirimkan balik ke sesama grup WA hanya agar dianggap “eksis”, namun ada pula yang memang dengan kesadaran, berniat membuat orang atau pihak lain terprovokasi, terhina atau terlecehkan.
Sebaliknya, penerima postingan yang memiliki “sumbu pendek” emosi akibat rendahnya literasi menerima mentah-mentah info yang masuk tanpa dianalisis dulu atau diklarifikasi dengan sumber-sumber lainnya.
Begitu mudah emosi terpicu jika yang dipertentangkan masalah keyakinan, etnis dan golongan seseorang atau kelompok, juga terkait sosok pilihan capes atau cawapres dalam Pemilu, 17 April nanti.
Masyarakat Anti Fitnah (Mafindo) mencatat 997 narasi hoaks sepanjang 2018, sebanyak 49 persen diantaranya terkait isu politis, selebihnya mengenai pemerintah, musibah dan isu kesehatan.
Informasi, menurut Mafindo, tidak sekedar untuk menyampaikan peristiwa, tetapi ada juga yang bertujuan tertentu termasuk politis. Bedanya dengan di era Nazi, Jerman pada 1930-an, kabar bohong dan propaganda ditebarkan melalui radio dan film, kini melalui medsos.
Terus meningkat
Kemkominfo mencatat, sejak Agustus 2018 hingga Maret 2019 ada 1.224 konten hoaks di medsos, 26 persen diantaranya memuat konten politik dan trennya terus meningkat menjelang Pilpres dalam Pemilu 2019.
Pada Januari 2019 tercatat 175 postingan hoaks, meningkat pada Februari menjadi 353 dan Maret, 453, dimana 130 diantaranya bermuatan politik.
Sementara psikolog forensik Kasandra Putranto menilai, individu yang memiliki kemampuan analitis lebih baik , lebih mampu membedakan berita benar dan hoaks. Kemampuan tersebut terkait bagian otak prefrontal cortex yang kapasitasnya tergantung kemampuan kendali seseorang.
Orang dengan kualitas prefrontal cortex leih baik, kata Putranto, diperkirakan akan memiliki kontrol diri lebih baik pula.
Bagian lain prefrontal cortex adalah ventromedial cortex yang jika mengalami gangguan akan membuat orang sulit mengendalikan agresivitas terutama terkait kepercayaan dan keyakinannya terhadap sesuatu yang berdampak pada bias konfirmasi.
Bias konfirmasi terjadi pada orang-orang yang mencari hal-hal sesuai keinginannya. “Saat meyakini kebenaran suatu hal, orang-orang ini terus mencari pembenaran terhadap keyakinannya hngga pada gilirannya semakin jauh dari realitas.
Untuk menghadapi bias konfirmasi, menurut Kasandra, orang harus terus meningkatkan kemampuan analitisnya sehingga mampu membedakan berita hoaks atau bukan dan menahan diri untuk tidak menyebarkan konten hoaks.
Ayo, banyak membaca dan mendengar untuk mempertajam nalar sehingga tidak terprovokasi dan termakan hoaks.
postingan




