BERITA gempa dengan sekian SR hampir setiap hari terdengar, lalu berita banjir dan longsor juga seperti berita mingguan. Itu peringatan dari Allah Swt bahwa ada yang salah di negeri ini. Kerusakan alam terjadi di mana-mana, ada yang karena alami, ada pula yang sengaja dirusak demi uang. Sampai Capres Prabowo berujar, Ibu Pertiwi diperkosa. Publik pun banyak yang kaget, masa Ibu Pertiwi diperkosa? Kalau ibunya Pratiwi diperkosa, itu bisa saja terjadi!
Ibu Pertiwi diperkosa memang sekedar kata kiasan. Maksud sebenarnya adalah terjadi perusakan alam, karena ulah segelintir orang demi memperoleh uang! Ibu pertiwi di sini maksudnya tak lain: sumber daya alam (SDA), karena kosa kata pertiwi sendiri maksudnya bumi atau tanah. Maka di Jakarta ada majalah wanita “Pertiwi”, yang ketika terbit pertama kali sedang “viral” –begitu istilah sekarang– tentang Pratiwi Sudarmono, yakni dosen mikrobiologi UI yang terpilih dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H, Amerika Serikat.
Kata pertiwi sangat akrab di telinga anak Indonesia. Sejak Sekolah Rakyat dan SD Pak Guru telah mengajarkan lagu “Ibu Pertiwi” karya komponis Ismail Marzuki. Lagunya lembut dan menyentuh, mampu membangkitkan rasa cinta anak bangsa pada negara dan tanah airnya.
Bait pertama misalnya: Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matamu berlinang, mas intanmu terkenang, hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan, kini ibu sedang susah, merintih dan berdoa. Lalu perhatikan bait kedua: Kulihat ibu pertiwi, kami datang berbakti, lihatlah putra-putrimu, menggembirakan ibu, ibu kami tetap cinta, putramu yang setia, menjaga harta pusaka, untuk nusa dan bangsa.
Lewat kearifan lokal kejawaan, dalang kondang almarhum Ki Narto Sabdho, tahun 1960-an telah menciptakan gending “Ibu Pertiwi”, inilah cakepan atau liriknya: Ibu pertiwi, paring boga lan sandang kang murakabi, peparing rejeki manungsa kang bekti, ibu pertiwi ibu pretiwi, sih sutresna ing sesami, ibu pertiwi kang adil luhuring budi, ayo sungkem mring ibu pertiwi…….
“Ibu Pertiwi” baik versi Ismail Marzuki maupun Ki Narto Sabdho mengandung pesan yang sama, agar kita sebagai bangsa Indonesia mencintai bumi tumpah darahnya. Tak sekedar mencintai, tapi juga memelihara dan merawatnya, mengolah dengan hasil untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, sesuai dengan UUD 1945: ”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” (pasal 33 ayat 3).
Namun pada “Ibu Pertiwi”-nya Ismail Marzuki ada sepenggal kalimat yang menyentak, “Kini ibu sedang susah, merintih dan berdoa.” Kondisi “Ibu Pertiwi” dewasa ini memang seperti itu; sedang menderita, lantaran SDA kita dengan sengaja dirusak oleh yang sedang punya kekuasaan. Giliran ada yang menyelamatkan, masih juga dipaido (dipersalahkan) dan dinyinyiri. Misalnya soal PT Freeport yang 51 persen sahamnya sudah kita kuasai, ada saja pihak yang lambe nggambleh (asal bicara). Dulu di masa Orba, bumi Papua dikuras Freeport dengan royalti 1 persen, pada diam saja kecuali Amien Rais.
Memasuki era reformasi, “Ibu Pertiwi” semakin merintih, karena hutan dirusak penguasa (Kepala Daerah) lewat alih fungsi lahan. Kayu-kayunya ditebangi pengusaha, sementara sang penguasa dapat kompensasi uang. Akibat selanjutnya, ketika hutan-hutan pada gundul, banjir pun datang sebagaiama Sentani di Papua belum lama ini, dengan korban tewas 104 orang, 6.831 warga mengungsi. Di daerah lain jas bukak iket blangkon, sama juga sami mawon, banjir dan longsor silih berganti lantaran Kepala Daerah merusak hutan demi biaya Pilkada.





