Puasa Anak Kampung (1)

Bermain long bumbung sangat mengasyikkan, itung-itung bangunkan orang sahur.

SUDAH seminggu kita menjalankan ibadah puasa Romadon 1440 H. Kemakmuran mesjid semakin terasa, sebab mesjid menjadi full oleh orang salat tarawih. Meski itu biasaanya hanya sampai 10 hari puasa. Tapi bagi penulis, puasa di kampung terasa lebih indah, ketimbang puasa di kota besar sebagaimana Jakarta. Maklumlah, tahun 1965-an penulis masih anak-anak, sementara sekarang sudah orangtua berusia oversek (lebih dari 50 tahun). Dulu apa-apa tinggal minta orangtua, sementara sekarang gantian dimintai ini itu oleh anak-anak kita. Hukum karma!

Aku mengenal yang namanya puasa baru ketika umur 6 tahunan. Saat umur 5 tahunan, saya hanya tahu bapak saya dan segenap anggota keluarga siap di meja makan. Begitu terdengar suara kentongan dari langgar Siwa Dono, bapak pun minum dan makan kolak singkong, yang di Purworejo selatan disebutnya kluwa. Setelah salat magrib barulah bapak makan. Ternyata itu yang disebut “buka” alias membatalkan puasa.

Sebagaimana lazimnya anak kecil, saat bapak makan aku suka mengganggu, minta ini itu. Bapak rupanya terganggu, dan saya pun ditempang (tendang) sampai terjatuh. Tangisku pun pecah, lalu ditolong oleh nenek. “Oo, Sutik gendeng, karo anake kok tegel (sama anak sendiri kok tega),” omel Mbah Juwog. Simbok kala itu goreng krecek, tapi keras dan alotnya minta ampun. Di mulut kecilku, krecek goreng itu seakan mengajak petak umpet, digigit sini lari ke sana, begitu seterusnya.

Umur 7 tahun saat aku sudah masuk SR (Sekolah Rakyat), baru tahu makna puasa. Ternyata itu hukumnya wajib bagi orang Islam. Tapi aku belum ikut menjalaninya. Cuma di kala bapak dan simbok berbuka, saya suka nggangguin, minta makan. Nanti saat sahur, bangun juga ikut makan. Di kampung kami, pukul 02.00 pagi sudah makan sahur. Bapak sepulang tadarusan di rumah Pak Kaum (modin), pukul 23.00 sudah memerintahkan simbok untuk masak di dapur.

Bagaimna penulis bisa mengetahui waktu sahur tiba? Aku sengaja tidur di risban (balai-balai dari bambu). Begitu risban mau dipakai duduk bersama, otomatis saya dibangunkan. Nah, itu artinya ikut makan sahur juga. Tapi pada akhirnya aku disiasati, mereka tidak duduk di risban yang kupakai tidur, sehingga aku pun kebobolan tidak ikut makan sahur. Lain hari, agar tak lagi kebobolan, sengaja aku tidur di meja. Ini siasat jitu, karena meja makan itu memang satu-satunya meja besar untuk makan bersama.

Jaman itu, murid SR sampai SMA selalu libur setiap bulan Romadon. Karenanya anak-anak kenyang bermain-main. Di kampungku, mainan terkenal di bulan Romadon adalah bikin long bumbung, “mercon”-nya anak kampung. Di pasar juga banyak dijual petasan, tapi kan harus beli, dan anak kampung tak punya uang. Main long bumbung jadilah! Yang penting kan suaranya, ketika disundut, bunyinya juga menggelegar. Makin gede bambu yang dipakai, semakin keras bunyinya. BBM-nya cukup minyak tanah. Pakai bensin juga bisa dan cepat panas, tapi berbahaya.

Tetanggaku bernama Pawiro Mono, meski orang dewasa dan sudah punya dua anak, masih juga main long bumbung. Tapi ternyata itu untuk anak perempuannya, Kuncung dan Parjiah. Habis magrib dan menjelang sahur dia main long. Tabung bambunya sepanjang 3 meter dari bambu wulung seukuran pralon 4 inci, asal disundut suaranya menggelegar membelah langit. Duarrrrrr…….dan anak-anakpun siap tutup telinga sebelum terdengar bunyi ledakan.

Agar menghasilkan bunyi yang lebih keras sebagaimana punya Pawiro Mono, aku pernah menebang pring wulung di rumpun bambu milik bapak. Tapi ternyata salah tebang punya Siwa Jikem. Dia sampai menangis terisak-isak gara-gara sebatang bambunya tertebang olehku. Hingga sekarang, asal ingat peristiwa itu aku semakin menyadari bahwa buat orang kampung rumpun bambu merupakan aset berharga juga.

Karena anak-anak belum wajib berpuasa, penulis baru menjalani rukun Islam ke-3 ini ketika sudah duduk di kelas IV SR. Siksaan terberat bagi soimin anak-anak, ternyata menahan rasa haus, ketimbang rasa lapar. Pukul 12.00 rasa harus itu begitu terasa. Saya menyiasati bersama teman dengan mandi di kali kecil yang disebutnya pleret (pancuran). Paling “efektif” adalah, dengan mengguyur leher berkali-kali pakai air sumur. (Cantrik Metaram)

Advertisement