Puasa Anak Kampung (2)

Selesai tarawih para santri tadarusan hingga pukul 23.00. Bapak saya dulu juga seperti itu.

PUASA di masa anak-anak bukan karena kesadaran agama, melainkan hanya ikutan saja. Sebab malu jika diolok-olok teman dan keluarga, tak puasa kok ikut sahur dan berbuka. Seperti ”uler jedhung” kata simbok, dan “pasa kok apa-apa kersa” kata bapak. Karena hanya ikut-ikutan itulah penulis sekitar pukul 12.00 siang diam-diam makan beberapa suap nasi dan sayurnya, makanan sisa semalam. Tapi kalau ditanya teman jawabnya meyakinkan, “Puasa dong!”

Bermain-main bersama teman sering dapat buah-buahan berupa mangga, pisang, termasuk buah-buahan hutan yang disebut cukilan dan mundu. Semua dibawa pulang, katanya nggo mengko sore (buat sore nanti). Padahal setelah saat berbuka tiba, koleksi makanan itu tak termakan karena sudah kekenyangan. ………………

Di masa kecilku sampai ABG menunggu bedug maghrib atau “golek sore” (ngabuburit kata orang Sunda), dengan mendengarkan radio. Banyak sekali pengajian dari  berbagai stasiun radio, baik swasta maupun RRI. Dari RRI Surabaya (gelombang 75 m) ustadznya KH Asy’ari, RRI Yogyakarta (59,43 m) KH AR Fahrudin atau Mukhlas Abror; keduanya pengurus Muhammadiyah. Yang lucu, begitu terdengar adzan magrib RRI Yogyakarta, aku langsung berbuka. Padahal untuk daerah Purworejo yang berjarak 60 Km ke arah barat, ada jeda waktu sekitar 1 menit. “Ikuti saja adzan RRI Ujungpandang, pasti lebih cepat lagi,” ledek familiku, Partono namanya.

Habis berbuka siap-siap  pergi salat tarawih ke rumah kaum Mat Soderi. Di tempat kami, santri-santinya beraliran NU, maka salatnya 23 rakaat. Saat itu saya dan teman-teman tak tahu perbedaan tarawih NU dan Muhammadiyah. Tahunya salat lumayan lama. Yang salat hanya para orang dewasa, sekitar 8 orang. Anak-anak hanya duduk-duduk di tikar, siap mengamini ketika berdoa, dan berteriak lantang “soli ‘ala Muhammad, rosululloh…..” ketika setiap salat tarawih dua rokaatan berakhir.

Yang menarik bagi anak-anak ikut tarawih adalah, menunggu pembagian jaburan, berupa minuman namanya mbilworok, yakni kambil tuwa dikerok yang dicampur dengan air gula kelapa, kadang pakai kolang-kaling. Anak antri dengan bawa cangkir atau gelas sendiri. Bagi yang tak sabaran seperti Mulyono temanku, langsung saja main gogoh di pengaron (kuali) tempat jaburan. Kontan anak-anak belakangnya tak mau lagi minum jaburan tersebut.

Kakak saya perempuan suka nakut-nakuti ketika tahu saya ikut berebut jaburan, dan kemudian dibawa pulang sebagaimana Tunggono kawanku. “Hiii, pengarone kuwi tilas nggo ngekum kathoke (kualinya bekas untuk merendam celana) Ganung.”, kata kakakku. Ganung adalah nama anak lelaki pak kaum. Tapi saya tak peduli. Bodo amatlah……dan terus selalu antri ikut berebut jaburan.

Sampai tahun 1970-an, kampungku belum punya mesjid, kecuali langgar milik bapak dan Siwa Dono.  Tapi langgar itu untuk menampung anak-anak ikut tarawih tidak muat,sehingga tarawih selalu diadakan di rumah kaum. Seingatku, pada hari ke-17 puasa (Nuzulul Qur’an) tak ada kegiatan  istimewa di rumah Pak Kaum. Baru ketika “selikuran” atau 21 hari puasa, ada slametan. Simbok masak istimewa, biasa disebut: adang. Nanti dikepungke (bancakan) di rumah Kaum Amat Soderi.

Ketika Lebaran tinggal seminggu, emak-emak di kampung mulai mempersiapkan atau membuat makanan tradisional, ada rengginang, jemur jenang tape atau wajik Bandung. Simbok juga membelikan baju baru buat anak-anaknya. Dalam keluarga kami, anak-anak punya kesempatan baju baru hanya saat Lebaran dan tujuhbelasan. Kainnya jenis katun atau berkolin dan poplin, bahkan blaco. Ketika tekstil jenis namana tetoron dan tetrex, barulah para ABG berlomba untuk memiliki.

Lebaran tiba, di kampungku baru terasa regeng (ramai) pada hari kedua, 2 Syawal. Pada Lebaran hari pertama, hanya ada kegiatan salat Ied oleh para santri. Nah di situlah saatnya anak-anak berburu sangu. Orangtua yang biasa memberi sangu pasti jadi target pertama para bocah. Sebaliknya yang tak pernah memberi sangu, jarang dibanjiri anak-anak. Tapi kala itu aku suka iri pada Bayek kawanku, dia selalu dapat sangu lebih banyak dariku. Kata bapak, orangtua memberi sangu ditilik dari status sosial orangtuanya. Jika keluarga miskin, diberi sangu lumayan banyak. Aku hanya dapat sedikit ternyata orangtuaku “juragan” beras, dinilai ekonominya lebih mapan. (Cantrik Metaram)

 

 

 

Advertisement