
ESKALASI ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, jika berkembang menjadi konflik, dikhawatirkan bisa memicu lonjakan harga minyak global yang kini sudah di kisaran 70 dollar per barel.
Pakar minyak asal Kuwait, Kamel al-Harami seperti dikutip AFP (17/5) lalu mengatakan, jika jalur bagi sekitar sepertig pasokan minyak dunia di Selat Hormus ditutup oleh Iran, harga emas hitam tersebut bisa melonjak menjadi 100 dollar AS.
Jika itu terjadi, menurut dia, berarti suplai minyak sebanyak 15 juta barrel per hari yang dihasilkan oleh negara-negara penghasil minyak utama yakni Arab Saudi, Irak, UEA, Kuwait, Qatar dan Juga Iran bakal terhenti.
Dampaknya, lanjut al-Harami, yang terkena pukulan telak tidak saja produsen minyak, tetapi juga negara-negara industri penggunanya seperti China, Jepang dan Korea Selatan dan negara-negara berkembang yang tidak memiliki sumber minyak.
Kekacauan pasokan minyak pernah terjadi saat perang Irak – Iran antara 1980 – 1988 dimana sekitar 500 kapal tanker termasuk pengangkut minyak yang meliwati Selat Hormuz rusak karena ditembaki pihak-pihak yang bertikai.
Sejauh ini, ketegangan baru pada tahap awal berupa penembakan empat kapal tanker di alur pelayaran sekitar UEA di Selat Hormuz termasuk dua milik Arab Saudi. Keempat kapal hanya mengalami kerusakan ringan dan dapat melanjutkan pelayaran.
Iran kembali mengancam akan menutup Selat Hormus diantara Teluk Persia dan Teluk Oman dengan lebar 51 Km akibat keputusan Presiden AS Donald Trump mencabut keringanan sanksi bagi negara-negara pembeli minyak dari Iran.
Eskalasi permusuhan terjadi lagi pasca penarikan diri AS dari kesepakatan nuklir Iran, bersama negara penandatanganan lainnya yakni China, Jerman, Inggeris, Perancis dan Rusia pada 8 Mei, 2018 atau tepatnya setahun lalu.
Kesepakatan itu mengikat Iran untuk menghentikan program nuklirnya dan sebagai imbalannya, keenam negara tersebut mencabut sanksi embargo dan bisa berinvestasi termasuk di sektor perbankan di Iran.
Namun sampai hari ini, AS dan Iran tampaknya masih mampu menahan diri sehingga perang diperkirakan tidak pecah dalam waktu dekat ini.
Pihak AS sejauh ini juga tidak bereaksi keras atas insiden empat kapal tanker tersebut dan juga terhadap serangan milisi Houthi dukungan Iran di Yaman terhadap jaringan pipa perusahaan minyak patungan AS dan Saudi, Aramco pekan lalu (14/5).
AS memang sudah memerintahkan kapal induk USS Abraham Lincoln yang mengangkut pembom B-52 dan kapal serang amfibi USS Arlington merapat di Teluk Parsi, kemungkinan untuk menggertak Iran dan memberi jaminan keamanan bagi sekutu-sekutunya.
Jika pecah konflik, pengamat memperkirakan, AS dengan keunggulan mesin perangnya akan melancarkan serangan ke target-target militer terbatas, misalnya dengan rudal-rudal jelajah tomahawk seperti dilakukan pada awal Perang Teluk melawan Irak , 1990.
Jika AS dan Iran perang, banyak negara yang bakal merugi.
(AP/AFP/Reuters/ns)




