TASIKMALAYA – Aktivitas penambangan pasir yang menghancurkan perbukitan telah menimbulkan krisis air di ‎sejumlah wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya saat kemarau.
Warga mulai kesulitan memperoleh air bersih lantaran sumur dan mata air mulai mengering. Penyusutan air terjadi di beberapa tempat seperti Kecamatan Mangkubumi dan Bungursari di Kota Tasikmalaya, serta Sukaratu di Kabupaten Tasikmalaya.
Lokasi-lokasi tersebut merupakan pusat aktivitas penambang pasir yang menggerogoti kawasan perbukitan. Tak hanya rusak, beberapa bukit bahkan telah rata karena kegiatan tersebut.
Ai (46), warga Kampung Cimanggu, Kelurahan Cipawitra, Kecamatan Mangkubumi mengakui kekeringan mulai terasa di tempatnya.
Setelah Lebaran, sumur di kediamannya mulai menyusut. Ia mesti berhemat dalam kondisi air yang mulai terbatas.”Air masih ada, tapi sedikit,” katanya, Minggu (23/6/2019).
Selain menyusut, air sumur Ai juga keruh. Untuk konsumsi keluarga, ia memilih membeli air kemasan. Ai mulai khawatir dengan kekeringan yang melanda tempat tinggalnya pada musim kemarau.
Kelangkaan air juga dirasakan sejumlah warga di Kampung Cihideung, Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Hani (20), warga Cihideung kesulitan mendapat air karena sumurnya mulai mengering.
Untuk menyiasatinya, Hani hanya menggunakan air yang tersisa di sumurnya guna keperluan mandi dan masak. “Airnya juga berwarna agak kuning,” ucap Hani.
Untuk mencuci, ia memilih memakai jamban umum. Kondisi serupa terjadi di Kampung Gunung Mareme, Kelurahan Cibunigeulis, Kota Tasikmalaya.
T Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung menyatakan, keberadaan bukit-bukit di Tasikmalaya berfungsi sebagai kawasan serapan air hujan.
“Sekecil apapun bukit, bila bukit tersebut ditumbuhi kayu-kayuan yang rapat, air hujan akan diresapkan,” ujarnya, dikutip Pikiran Rakyat.
Resapan itu akan menjadi mata air-mata air yang muncul di perbukitan. Hancurnya bukit berarti hilang pula mata air-mata air tersebut.





