
Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe
JIKA terjadi bencana di Indonesia, orang pasti teringat pada sosok Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.
Sutopo yang sigap dan cekatan menyampaikan informasi tentang bencana, prediksi dan mengantispasinya, menenteramkan masyarakat dari hoaks dan membangkitkan harapan, terhenti langkahnya akibat kanker paru-paru yang diidapnya sejak akhir 2017.
Sosok yang telah membaktikan sebagian besar hidupnya dalam persoalan kebencanaan terutama di tahun tahun terakhir ini menghembuskan nafas terakhir, kembali ke pangkuan Illahi di St Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou, China, Minggu (7/7)).
Sutopo tidak pernah kehilangan semangatnya menyampaikan informasi yang akurat terkait kebencaan pada publik di tengah kanker yang menggerogotinya yang pasti membuat fisiknya melemah, bobot tubuh turun banyak, dan rasa nyeri tak terperi walau tak diperlihatkannya.
Saat ia pertama dokter memastikan bahwa terkena kanker paru-paru yang sudah pada stadium 4B, Sutopo kepada wartawan yang mewawancarainya mengatakan, ia mencoba untuk tidak memberi tahu keluarga, apalagi rekan-rekan kerja dan pers.
Sebelum diputuskan untuk dirawat di Guangzhou, 15 Juni lalu, almarhum yang agaknya berfirasat, usianya bakal pendek, malah wara-wiri bepergian untuk memberikan edukasi pemberitaan kebencanaan pada pers, seolah ingin berpacu dengan waktu, membagikan sebanyak mungkin ilmunya pada orang lain.
Sutopo, bahkan dengan santainya, menganggap penyakit, sesuatu yang biasa-biasa saja, seolah meyakinkan pada orang lain agar tidak perlu menaruh iba atau memberikan perhatian khusus padanya. “Kanker sudah menyerang tulang sumsum. Lihat nih, tulang punggung saya sudah bengkok, “ ujarnya santai.
Presiden terkesan
Presiden Jokowi juga mengenang Sutopo sebagai sosok yang konsisten hingga akhir hayatnya, menunjukkan dedikasi luar biasa bagi negara dan masyarakat dengan tetap mengemban tugas penuh di tengah sakit yang diidapnya.
Ungkapan almarhum yang dikenang oleh Jokowi yakni tentang kehidupan, yang tidak bisa diukur dari pendek atau panjangnya usia, tetapi seberapa banyak dapat melakukan kebaikan bagi orang lain.
Sutopo atas permintaannya dan kesepakatan keluarga dimamakamkan di TPU Sonolayu, sekitar 500 meter dari rumah kelahirannya di Desa Siswodipuran, Boyolali, Senin pukul 08.50 WIB.
Besarnya perhatian pejabat, tokoh-tokoh masyarakat dan ungkapan dukacita publik di medsos menunjukkan kehilangan besar yang dialami atas kepergian tokoh panutan bangsa itu.
Periode kedua pemerintah Jokowi nanti hendaknya diisi sosok-sosok pembantu di kabinet, kepala-kepala lembaga negara, juga kepala daerah yang siap bekerja melebihi penugasannya seperti yang diteladankan oleh Sutopo.
Negeri ini tidak butuh pemimpin atau pejabat yang cuma berbusa-busa membangun pencitraan dirinya atau berkilah-kilah jika gagal, tetapi mendambakan pemimpin prorakyat, pekerja keras, berdedikasi tinggi dan tidak korup.
Begitu pula dengan anggota parlemen terpilih nanti. Rakyat mendambakan wakil-wakil rakyat yang tulus, pekerja keras yang pantang menyerah dan tulus membela kepentingan dan aspirasi rakyat.
Rakyat tidak butuh anggota DPD, DPR atau DPD yang atas nama rakyat, cuma rajin mengejar komisi proyek, plesir atau wira-wiri ke manca negara dengan judul studi banding.
Semoga kepergian Sutopo, mengigatkan dan menyadarkan mereka dan menginspirasi kita semua. Selamat jalan pak Topo, semoga bapak dimulyakan oleh Allah, sang pencipta!




