
SATU juta warga etnis minoritas muslim Uighur, Provinsi Xinjiang, China dilaporkan dijebloskan di kamp-kamp konsentrasi dan dipaksa untuk berasimilasi atau menyesuaikan diri dengan etnis mayoritas Han.
Dua puluh dua negara anggota PBB dilaporkan oleh AFP (11/7), melalui para dubesnya telah melayangkan surat kepada Presiden Dewan HAM PBB Coly Seck dan Komisioner Tinggi HAM PBB Michele Bachelet memuat kecaman atas perlakuan buruk Beijing terhadap etnis Uighur.
Sebaliknya, otoritas China berkilah bahwa kamp-kamp di Xinjiang didirikan sebagai pusat pendidikan kejuruan terkait pelatihan kerja yang pesertanya sukarela dan mayoritas warga Uighur.
Pusat pendidikan itu, menurut versi pemerintah, diperlukan untuk menjauhkan warga setempat dari ekstremisme keagamaan, terorisme dan aliran separatisme.
Namun didalam surat yang ditandatangani para dubes di PBB itu disebutkan kecemasan mereka tentang penahanan sewenang-wenang dan meluasnya pengawasan dan pembatasan menyasar etnis Uighur dan kelompk minoritas lainnya di Xinjiang.
Surat itu juga memuat seruan kepada otoritas China untuk menghentikan penahanan sewenang-wenang dan mendorong mereka agar memberikan kebebasan bagi warga Uighur dan etnis muslim Xinjiang lainnya.
Para Dubes yang menandatangani surat ini, termasuk para Dubes dari negara-negara Uni Eropa dan Swiss, meminta agar surat ini ditetapkan sebagai dokumen resmi pada Dewan HAM PBB, yang akan mengakhiri sesi rapat ke 41 di Jenewa, Swiss hari ini (12/7).
Peristiwa Berdarah 5 Juli 2009
Kerusuhan besar yang terjadi di Urumqi, ibukota wilayah Otonomi Uighur Xinjiang (WOUX) yang merupakan rangkaian aksi massa yang memuncak pada 5 Juli 2009.
Awalnya aksi damai oleh 1.000 warga Uighur yang kemudian memanas dan berubah menjadi aksi penyerangan terhadap etnis mayoritas Han dan bentrok melawan polisi serta tentara.
Pemerintah menuduh aksi tersebut didalangi oleh Kongres Uighur Sedunia pimpinan Rebiya Kadeer yang bermarkas di luar negeri.
Pendemo semula menuntut agar pemerintah membentuk tim pencari fakta guna menyelidiki insiden Shaoguan beberapa hari sebelumnya yang menewaskan dua etnis Uighur.
Pemerintah mencatat 197 korban tewas, mayoritas etnis Han dan 1.721 luka-luka, sejumlah kendaraan serta bangunan hancur, namun grup pengasingan Uighur menyebutkan, korban orang hilang jauh lebih banyak akibat aksi pembersihan besar-besaran oleh aparat keamanan.
Human Right Watch juga telah mendokumentasikan 43 kasus kekerasan yang memperkuat dugaan bahwa jumlah orang yang hilang tampaknya memang jauh lebih banyak lagi.
Saat kerusuhan terjadi, komunikasi dengan dunia luar terputus dan minggu-minggu berikutnya, dilaporkan 1.000 orang Uighur ditangkap, masjid-masjid ditutup dan ratusan orang ditahan, 26 diantaranya dihukum mati.
Dari Asia Tengah.
Uighur adalah etnis minoritas China dari Asia Tengah berbahasa Turki yang berbeda dengan suku Han karena letak Urumqi yang lebih dekat ke Kabul, Afghanistan ketimbang ke ibukota, Beijing.
Ketegangan-ketegangan etnis sebenarnya sudah terjadi selama beberapa dekade, bahkan bisa jadi sejak berabad-abad lalu.
Lebih dari 200 tahun, Uighur dan China terjebak dalam konflik politik akibat perlawanan etnis Uighur terhadap perluasan kekuasaan China ke arah barat negeri itu.
Uighur pernah mendeklarasikan diri dan menikmati kemerdekaan sebagai Republik Turkistan Timur pada 1933 dan mengulanginya kembali pada 1944, namun kembali di bawah kendali komunis pada 1949.
Selama Revolusi Kebudayaan pimpinan Mao Zedong tahun 1960-an dan 1970-an, agama dilarang dan karenanya masjid-masjid dan Al-Quran dimusnahkan.
Negara-negara Islam dan negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam perlu bekerjasama untuk mengulurkan tangan pada etnis muslim Uighur. (AFP/ns)




