Revitalisasi Budaya Jawa

Orang Jawa kok jadi teroris? Padahal, orang Jawa dikenal berbudaya adiluhung dan lembah lembut dalam tutur kata, halus dan penuh sopan santu dalam penampilan. Tulisan ini tidak membahas soal politik, tetapi soal budaya.

Jika berbicara dengan sudut pandang politik, pihak yang merasa dirugikan atau dimusuhi bisa saja memberi cap “pejuang kemerdekaan” sebagai teroris atau ekstremis. Contohnya adalah cap yang diberikan Belanda untuk para pemuda pejuang dalam masa perang kemerdekaan RI, 1945-1950. Pejuang Kemerdekaan Palestina juga memperoleh cap serupa oleh negara-negara pendukung Israel.

Budaya adalah seperangkat nilai atau norma luhur (noble values) yang menjadi pedoman berpikir, bertutur kata dan bertindak bagi seseorang, masyarakat dan bangsa untuk mempertahankan, mengembangkan dan mencapai tujuan hidup atau eksistensinya, yakni kebahagiaan. Dalam bahasa Jawa, tujuan itu dirumuskan sebagai “tata tentrem, karto raharjo”. Artinya, tertib, tenteram, adil dan makmur (serta sejatera), lahir dan bathin, material dan spiritual.

Sultan dalam pidatonya yang berjudul “Renaisans Budaya Mataraman, Konsep Inspiratif Akulturasi Budaya” itu menyerukan budaya Wedhatama-Wulangreh yang mengajarkan “wirya-arta-winasis” (kedudukan, harta dan kepandaian) dan keberpihakan kepada rakyat perlu direkonstruksi ulang dan diperbaharui kemasannya agar mudah dipahami masyarakat awam.

Wedhatama-Wulangreh tidak semata-mata mengajarkan “tapa-brata” dan berprihatin terus menerus. Pesan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam “Tahta untuk Rakyat” sebetulnya sangat jelas menyatakan, perlunya “laku tapa ngrame” atau berbuat nyata di tengah rakyat untuk membangun kesejahteraan.

Saripati budaya Mataraman termuat dalam buku (Serat) Centhini, Sastra Gendhing, Wulangreh dan Wedhatama sebagai sumber utama acuan untuk ajaran etika, estetika dan filsafat Jawa, yang penuh kearifan dan keteladanan.
Buku-buku itu memuat pedoman dan larangan-larangan, mengacu pada ajaran Panembahan Senopati dan Sultan Agung. Premis dasarnya adalah: dunia ideal adalah dunia harmoni lahir dan bathin.

Seseorang harus memelihara watak “reh”(bersabar) dan “ririh” (berhati-hati) seperti diajarkan Wulangreh. Berbohong, kikir dan sewenang-wenang harus dijauhi. Sementara itu, mengurangi makan-tidur adalah latihan utama untuk memperoleh kewaspadaan bathin agar tingkah laku dipertimbangkan masak-masak, dilihat baik-buruknya, dipikir mendalam sebelum mengambil keputusan dan berkeyakinan benar atas keputusan itu.

Ajaran ini penting untuk para pemimpin sekarang. Jika diamalkan dengan sungguh-sungguh ajaran ini juga bisa membantu tugas KPK memberantas korupsi. Singkat kata, perlu renaisanse (kelahiran kembali) budaya Jawa dalam bahasa dan format yang mudah difahami dan dilakoni.

Sultan Agung Sang Pelopor

Dalam sejarah Mataram Sultan Agung (1613-1645) tercatat sebagai raja terbesar. Pada masanya Mataram mencapai puncak kejayaannya. Ini bisa dilihat dari luas wilayah, pengakuan dari kerajaan-kerajaaan luar Jawa, pengembangan budaya Jawa, penulisan Babad Tanah Jawi dan pembuatan penanggalan Jawa-Islam.

Ia juga menyerang kompeni Belanda, VOC, di Batavia dua kali, 1628 dan 1629, walau tidak berhasil. Kecemerlangan Sultan Agung bisa dibaca dalam buku karya sejarawan Belanda De Graaf, “De Regering van Sultan Agung”.

Sultan Agung mengubah sistem penanggalan Syamsiah yang berdasar perputaran matahari pada penanggalan Saka Hindu-Jawa menjadi sistem Komariah, mengikuti perputaran bulan mengelilingi bumi, mengadopsi penanggalan Hijriah yang Islami. Sekalipun demikian, kalender Jawa tidak seluruhnya mengikuti Hijriah. Ada penyesuaian nama bulan dan hari dari bahasa Sansekerta menjadi bahasa mirip Arab. Karena ini semua, Sultan Agung ditengarai sebagai pelopor Renaisans Jawa.

Sultan Agung dalam buku Sastra Gendhing berpesan kepada keturunannya agar secara arif memetik hikmah ajaran dalam bahasa Kawi. Jika renaisans Eropa menghidupkan kembali peradaban Yunani dan Romawi kuna dalam wujud kebangkitan ilmu berdasar sumber-sumber klasik, Renaisans Jawa menggunakan sumber-sumber klasik serupa dengan diberi vitalitas dan ruh baru. Bahasa populernya sekarang: revitalisasi.

Renaisans Jawa mencapai puncaknya ketika jaman kepujanggaan masa Sri Paku Buwana IV. Pada waktu itu terjadi “pemberontakan” Jawa terhadap pengaruh asing (Hindu, Buddha, Islam, India, Arab, China dan Belanda) yang tercermin dengan lugas dalam karya-karya susastra. Saat itu terjadi “benturan antar peradaban” (clash of civilization) di Jawa. Dampaknya, bahasa dan tulisan Jawa berkembang pesat karena dipakai sebagai sarana pertahanan budaya Jawa terhadap pengaruh asing.

Akibat lanjutannya adalah lahirnya kembali nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang digali dari naskah-naskah lama yang berisi ajaran etika dengan menggubah dan merevitalisasi isinya, sedangkan bahasanya disesuaikan dengan perkembangan jaman. Saat itu adalah titik awal Jawa memperoleh “kedaulatan spiritual”.

Renaisans Eropa ditandai dengan kebangkitan sastra dan ilmu pengetahuan yang dikembangkan menjadi teknologi, yang kemudian diaplikasikan pada industri yang pada akhirnya menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Berkaca pada Renaisans Eopa yang digerakkan kelas borjuis menengah, pengusaha dan pedagang, maka Renaisance Jawa perlu digerakkan oleh kelas menengah, kaum minoritas kreatif dari kalangan seniman, budayawan, cendekiawan kampus dan pebinis.

Merujuk uraian Sultan HB X itu, Revolusi mental Presiden Jokowi, jika bisa diasumsikan sebagai revolusi budaya Indonesia, perlu dasar dan penggerak serupa.

Advertisement