Pembelajaran Setiap Kali Gempa

Ilustrasi Sebanyak 219 rumah, antara lain di Desa Sinar Jaya, tiga jembatan dan sembilan mesjid di Kec. Mandalawangi, Pandeglang rusak diterjang gempa, Jumat malam (2/7)

GEMPA berpusat di 48 Km kedalaman laut yang mengguncang Lampung, Banten dan Jabodetabek, Jumat pukul 19.03 WIB, gempa-gempa dan bencana lain hendaknya menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

Patut diapresiasi, warga Lampung Selatan dan Banten, menimba pengalaman dari gempa, 22 Desember lalu, bergegas menjauhi pantai begitu gempa berkekuatan amplitudo 6,9 mengguncang.

Warga Pandeglang merespons dengan sigap berkat dukungan petugas BPBD, Taruna Tanggap bencana dan aparat kepolisian. Petugas dari 10 kecamatan setempat mendata kerusakan dan juga memastikan tidak ada lagi orang berada pada jarak 200 meter dari garis pantai.

Sampai Sabtu sore (3/7) tercatat 219 rumah, sembilan mesjid dan tiga jembatan rusak di Desa Sinar Jaya, Kec. Mandalawangi, Pandeglang, namun tidak ada laporan mengenai korban jiwa, kecuali warga yang panik karena listrik padam usai gempa.

Jika gempa di lokasi sama akhir 2018 lalu terjadi akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang memicu tsunami, gempa dangkal Jumat malam lalu terjadi akibat deformasi bebatuan Lempeng Indo-Australia dipicu sesar oblique atau kombinasi gerak horizontal dan vertikal.

Bangunan Tinggi di Ibukota
Berbeda dengan kesiapan warga yang tinggal di pesisir pantai, kesiapan para pengelola bangunan bertingkat dan penghuninya di wilayah ibukota agaknya perlu dibenahi.

Di Rusun Kalibata City, Jakarta Selatan misalnya, warga berinisiatif sendiri, sebagian bergegas turun tetap menggunakan lift, padahal sesuai prosedur, harus melalui tangga darurat, sebagian pasrah di unit masing-masing.

Pemberitahuan dan arahan dari petugas Badan Pengelola juga terlambat, bahkan berbeda-beda. Ada petugas yang melarang penghuni naik, ada yang menyerahkan pada pertimbangan penghuni dan dari 18 tower, ada lift yang dimatikan, ada juga yang tetap berfungsi.

Kesiapan mengantisipasi gempa khusus Jabodetabek yang dikenal sebagai area hutan beton dengan sekitar 100 bangunan pencakar langit (tinggi minimal 150M) dan ratusan bangunan tinggi (23 sampai 150 meter) sangat diperlukan.

Ancaman gempa sewaktu-waktu mengintai wilayah Indonesia lainnya yang diliwati cincin api (ring of fire), sehingga kesiapan melalui mitigasi gempa, mulai dari simulasi, kesiapan alat dan aparat, juga warga, perlu terus dilakukan.

Setiap kali peristiwa gempa, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengasah keandalan oleh segenap pemangku kepentingan termasuk warga untuk mengantisipasi kemungkinan potensi risiko berikutnya.

Advertisement