Rusia Dianggap Tidak Patuh, AS Keluar dari Perjanjian INF

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo berbicara di pertemuan mengenai nuklir Iran di New York, 25 September 2018/ AFP

WASHINGTON DC- Amerika Serikat, pada Jumat (2/8/2019) memutuskan keluar dari perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF) untuk mengembangkan sendiri hulu ledak nuklirnya yang baru.

Keputusan tersebut diambil setelah Rusia menolak menghancurkan misil-misil barunya yang menurut NATO melanggar perjanjian tersebut.

“Rusia gagal untuk kembali ke kepatuhan secara penuh dan terverifikasi untuk menghancurkan sistem misilnya, SSC-8 atau 9M729, rudal jelajah jarak menengah yang diluncurkan dari darat,” kata Menteri Luar Negeri Mike Pompeo. “Rusia bertanggung jawab sepenuhnya atas berakhirnya perjanjian.”

Pompeo, dalam suatu pernyataan menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak akan tetap menjadi pihak dalam suatu perjanjian yang sengaja dilanggar oleh Rusia.

Ketidakpatuhan Rusia terhadap perjanjian itu membahayakan kepentingan tertinggi Amerika karena pembuatan dan pengerahan sistem misil yang melanggar perjanjian oleh Rusia itu merupakan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat serta sekutu-sekutu dan mitra-mitranya.

Presiden Amerika Donald Trump mengatakan ia berharap suatu perjanjian baru dapat disusun untuk menggantikan perjanjian bersejarah dari era Perang Dingin itu.

Ddilaporkan VOA, Trump mengatakan bahwa Rusia ingin membuat perjanjian nuklir yang baru dan ia juga ingin melakukan itu.

Tetapi Trump, yang berbicara di Gedung Putih sebelum menaiki helikopter kepresidenan mengatakan “kami tidak membahas INF” sewaktu berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sehari sebelumnya.

 

Advertisement