Aktivitas Tambang Pasir Ancam Warga di Kawasan Gunung Galunggung

Ilustrasi/Foto:IST

TASIKMALAYA – Penambangan pasir di kawasan gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya turut berdampak terhadap rusaknya jalur lahar gunung api tersebut.

Akibatnya, dua sungai yakni Cikunir dan Cibanjaran yang merupakan tempat penampungan lahar Gunung Galunggung kini menyempit dan dangkal karena aktivitas penambangan, sehingga banjir lahar mengintai warga Sukaratu yang bermukim di bawah kawasan penambangan.

Muslim (58), warga Desa Linggajati masih mengingat  saat banjir karena luapan Sungai Cibanjaran menerjang pemukiman di Kikisik dan sejumlah perkampungan lain di Desa Gunungsari, Rabu 27 Maret 2019.

Derasnya hujan serta bertambahnya debit air sungai ditengarai terjadi karena jebolnya kolam penampungan limbah penambang pasir sehingga banjir terjadi.

Menurut dia, Sungai Cibanjaran sebenarnya memiliki tanggul yang dikenal dengan istilah cek dam yang dibangun setelah Gunung Galunggung meletus pada 1982-1983. Kenyatanya, banjir tetap menerjang Sukaratu beberapa bulan lalu.

Cek dam yang berada di area belakang Mapolsek Sukaratu tersebut masih berdiri. Namun, sebagian aliran Sungai Cibanjaran malah mengalir ke sampingnya.

Muslim mengatakan, jebolnya tanggul penampung limbah tambang pasir berdampak terhadap munculnya bencana. Cek dam tak mampu membendung luapan air yang masuk ke permukiman. ‎ Apalagi, tanggul buatan pengusaha tambang di bagian atas cek dam bukanlah tanggul permanen.

Muslim mengatakan, alur sungai sudah berubah sejak penambangan menggerogoti tepi Sungai Cibanjaran dan Cikunir. Dalam ingatannya, lebar kedua sungai itu bisa mencapai 25 meter. Kini lebarnya menciut.

T Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung turut menyinggung potensi bencana yang terjadi karena rusaknya jalur lahar di sungai-sungai kawasan Gunung Galunggung. Apalagi, aktivitas penambangan berlangsung di lahan pesawahan.

“Sawah yang sudah subur dan ada lumpurnya akan berubah menjadi kondisi tak berlumpur. Lumpur yang subur untuk sawah akan hanyut ke hilir dan mengendap di dasar sungai,” ucap T Bachtiar.

Sungai pun mendangkal serta dikhawatiran tak mampu menampung volume air yang biasa tertampung di sungai. Imbasnya, sungai bakal meluap serta longsor akan terjadi.

“Bila terus digerus secara luas, bila ada hujan, akan memicu longsor di arah hulu, karena ada penyesuaian dasar di suatu kawasan menjadi lebih dalam,” ujarnya, dilansir PR, Senin (12/8/2019).

Hal serupa terjadi ketika lahar Gunung Galunggung masuk ke sungai.‎ “Volume air tetap, misalnya, tetapi dasar sungai mendangkal, air tak terwadahi lagi dan meluap,” ujarnya

Advertisement