Tuntutan Keadilan Korban Terdampak Penggusuran Tol Cipali Ditolak, Warga Kecewa

Tol Cipali/ IST

MAJALENGKA – Warga korban penggusuran tol Cipali kecewa dalam sidang dengan agenda putusan, Kamis (28/8/2019), tuntutan mereka dinyatakan kalah.

Selain kecewa, warga  juga berteriak-teriak melampiaskan kekecewaan karena tidak mendapatkan keadilan. “Indonesia belum merdeka kalau begini. Di mana keadilan?,” teriak seorang warga.

Sebagai bentuk kekecewaan, mereka juga berencana untuk mendatangi jalan tol. “Hayu kita ke tol saja. Jalan umum kok,” kata warga yang lain.

“Jalan umum dari mana? Lah wong kita masuk aja harus bayar,” timpal yang lain, dikutip Sindonews.

Sementara, sidang dengan agenda putusan sendiri berlangsung sekitar 30 menit. Dalam sidang terkahir itu, puluhan korban tampak memenuhi ruang sidang.

Dilansir Kumparan, salah seorang penggugat, Fahmi, memaparkan jika warga mulai melayangkan gugatan sejak November 2018.

Bersama rekan-rekan lainnya sesama korban penggusuran, Fahmi benar-benar berharap produk hukum dari pengadilan bisa menghadirkan rasa keadilan yang selama ini dianggapnya telah menjauh.

Dalam proses pembebasan lahan untuk jalan tol itu, Fahmi menjelaskan lahannya hanya dihargai sebesar Rp18.000 per meter. Padahal, lahan miliknya saat itu masuk ke dalam kategori cukup subur. Bahkan, saat proses penggusuran, tanaman padi sudah hampir masuk musim panen.

“(Harga tanah) sekarang dibeli sama pengusaha itu Rp5 juta per bata (1 bata = 14 meter). Kami pengen harga di atas Rp500 ribu per meternya. Uang ganti rugi sejak awal belum diambil. Ada 47 warga dari Kecamatan Dawuan, Jatiwangi, dan Desa Bongas, Kecamatan Sumberjaya,” ungkap dia.

Sementara, disinggung terkait munculnya harga pembebasan lahan di angka Rp18.000 per meter, Fahmi mencium adanya manipulasi yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Saat itu, jelas dia, tanda tangan warga untuk daftar hadir diduga digunakan sebagai persetujuan atas harga tanah.

Upaya Fahmi bersama warga lainnya dalam menuntut harga tanah layak tidak hanya dilakukan di PN. Mereka juga sempat menggelar aksi di Jakarta, namun tidak membuahkan hasil.

Advertisement