KEBIJAKAN ganjil-genap (Gage) awal-muawalnya digagas untuk mengurangi kemacetan lalulintas. Tapi karena pertimbangan tertentu, Gubernur Ahok batal melaksanakan dan diganti dengan sistim ERP (Electronic Road Pricing = jalan berbayar). Ganti gubernur, program itu tak ada kabarnya lagi. Gubernur Anies Baswedan sekarang lebih mengutamakan kwalitas udara ketimbang kemacetan. Maka sejak Agustus lalu aturan Gage diberlakukan di sejumlah ruas jalan Ibukota dan mulai 9 September diperluas, dari 16 menjadi 25 jalan. Resikonya, demi mengatasi polusi petugas polisi (lalulintas) harus diperbanyak dan siap jereng memelototi plat mobil.
Pembatasan kendaraan mobil melalui Gage ternyata hanya efektip mengurangi polusi, tapi kemacetan pindah tempat. Dan yang menjadi korban selalu golongan ekonomi menengah ke bawah. Bagi orang kaya sih, Gage tak menjadi masalah, karena mobil di rumah lebih dari satu. Andaikan mobil di rumah bernomor genap semua, tinggal beli lagi dan pesan plat yang bernomor ganjil.
Program Gage di Jakarta sebetulnya sudah digagas jaman Gubernur Ahok, tapi karena pertimbangan tertentu, dibatalkan. Rencananya pakai ERP, yakni jalan berbayar di sejumlah jalan di Jakarta. Tapi sepertinya program ini sudah terlupakan, karena Gage menjadi kebijakan Gubernur Anies.
Kenapa sistem Gage tiba-tiba diberlakukan di Ibukota? Ini semua gara-gara hasil survei yang dirilis AirVisual. Pada pukul 06.00 WIB udara DKI berada pada level tidak sehat dengan parameter US Air Quality Index (AQI US) 130 atau berkategori tidak sehat bagi masyarakat sensitif. Angka itu terpaut 23 poin lebih rendah dari Dubai, Uni Emirat Arab yang menduduki peringkat pertama kota dengan kualitas udara terburuk 153, dan Beijing, China, yang menduduki peringkat kedua kota terpolutan di dunia dengan angka indeks 137.
Semula yang dijadikan “tersangka” industri dengan cerobong asapnya yang terus mengepul. Tapi kata pihak Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), andil pabrik-pabrik terhadap polusi udara hanya 11 persen, terbanyak kendaraan bermotor, sampai 47 persen. Gara-gara polusi tersebut, warga Ibukota dalam setahunnya menurut KPBB merugi sampai Rp 51,2 trilyun. Bagaimana cara ngitungnya, apa pakai kalkulator saja?
Data taun 2018 menyebutkan, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dalam sehari mencapai 18 juta. Baik milik warga kota maupun kendaraan pelintas. Data Polda Metro Jaya tahun 2015 juga menyebutkan, kendaraan tersebut terdiri dari mobil 38 persen, motor 49 persen, angkutan umum 13 persen. Di tahun 2019 dipastikan cenderung lebih banyak lagi, sebab di dalam setahun kendaraan bertambah 12 persen. Dalam sehari pertambahan itu antara 5.500-6.000, yakni sepeda motore 4.500, dan mobil 1.600.
Maka sejak 12 Agustus 2019 sistem Gage diberlakukan di 16 ruas jalan Ibukota. Gage menjadi primadona, karena efektif mengurangi polusi, meski polisi lalintasnya juga harus ditambah banyak. Jika semula baru 16 ruas jalan, mulai 9 September menjadi 25 ruas, lalu berapa polantas yang harus dikerahkan untuk memeloti plat mobil di jalan raya? Mereka harus siap jereng mata atau malah belekan, gara-gara tiap hari harus memelototi ribuan plat mobil. Gara-gara polusi udara, polisi lalulintas terpaksa banyak dikerahkan.
Bila sebelum 9 September pelanggar Gage hanya ditegur, maka sejak tanggal itu pelanggar benar-benar ditindak tegas. Pelanggar pun akan merogoh kocek dalam-dalam, karena dendanya Rp 500.000,- Dan faktanya, beberapa hari sistem Gage diberlakukan, 1904 kendaraan kena tilang dengan hasil denda mencapai Rp 952 juta. Lumayan kan bisa menambah PAD Pemprov DKI.
Tapi berita terakhir mengatakan, dampak Gage ternyata menimbulkan kemacetan di jalan lain yang belum terkena. Jadi ibarat orang pencet balon, kempes di sini, melendung di sono! Maka bila ingin efektif, Gubernur Anies harus tega hati, berlakukan saja seluruh ruas jalan di ibukota, dan waktunya 16 jam, dari pukul 06.00 sampai pukul 22. Niscaya kemacetan berkurang banyak, dan udara Jakarta menjadi sejuk seperti hawa pegunungan!
Bagi orang kaya, kebijakan Gubernur Anies akan dianggap enteng. Tinggal dia beli lagi mobil satu lagi sehingga nomer mobilnya lengkap ganjil dan genap. Saat Ahok akan memberlakukan Gage, banyak orang yang siap-siap menyiasati dengan cara demikian. (Cantrik Metaram)





