
ADAB dan etika di dalam pergaulan atau saat berinteraksi dengan orang lain, di negeri sendiri mau pun di tengah pergaulan internasional, walau tampak sepele, penting dijaga, demi kenyamanan bersama dan juga citra bangsa.
Jepang dikenal sebagai bangsa yang memiliki “unggah-ungguh” tinggi menjaga adab dan etika. Mereka membungkukkan tubuh, terkadang tidak hanya sekali saat bertemu atau memulai bertegur sapa, apalagi terhadap sosok yang dianggap senior atau lebih tua.
Orang Indonesia juga dikenal ramah, menghormati orang lain, apalagi tamu asing. Bahkan saat hendak makan di tengah perjalanan, di atas KA atau pesawat, biasanya menawarkan pada penumpang lain yang duduk bersebelahan atau di depannya.
“Mari makan”, kata ini dilontarkan sebelum menyantap makanan walau lebih bersifat basa-basi dan orang yang ditawari biasanya tidak bakal mau. Kebangeten lah, jika orang yang tidak dikenal sebelumnya, mau ikut makan ketika ditawari.
Adab dan etika merupakan konsensus bersama. Pelanggarnya cuma bisa dikenai sanksi sosial, minimal dianggap tidak lumrah oleh orang-orang yang menyaksikan atau orang yang mengalami perlakuannya.
Namun bisa pula pelanggaran adab atau etika berujung perkelahian fisik, bahkan berujung maut. Contohnya, orang saling menatap, bisa menimbulkan salah paham, dianggap menantang atau sok jago.
Saat kita berbicara dengan seseorang, tiba-tiba orang lain menyelak atau orang yang bersin, sendawa atau menguap di depan orang lain seenaknya, bisa membuat kesal orang sekitarnya, bahkan bisa berbuntut tindak kekerasan.
Buktinya, Sudirman (52) menusuk calon penumpang lain, Sandi Marbun (28) di halte bus BKN, Transjakarta, Jakarta Timur (14/3) dengan badik
hanya karena korban dianggap merendahkannya, duduk sambil angkat kaki.
Beruntung, korban hanya mengalami luka goresan di pahanya karena mengenakan celana panjang.
“Pelaku trauma dengan orang yang angkat kaki, hanya gara-gara itu, “ ,” kata Kapolsek Kramat Jati Kompol Nurdin AR seraya menambahkan, ia tersinggung dan menganggap korban telah merendahkannya.
Sudirman juga mengaku pernah melakukan hal serupa di Bogor gara-gara ada orang yang duduk angkat kaki di dekatnya.
Ditanamkan Sejak Dini
Di banyak negara, adab dan etika dianggap persoalan penting, sehingga ditanamkan sejak dini, baik melalui keluarga mau pun kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah.
Misalnya, saat meliwati pintu di tempat-tempat umum, harus menoleh kebelakang sejenak, siapa tau ada orang yang juga akan liwat, tidak cepat-cepat menutup pintu kembali. Dilarang pula menatap orang yang tidak dikenal terlalu lama, karena bisa membuat situasi tidak mengenakkan.
Adab dan etika juga tetap ditunjukkan oleh orang-orang Jepang sekalipun di tengah situasi darurat. Mereka tetap tertib antri makanan di tengah udara dingin saat musibah gempa .
Di Indonesia sendiri, terutama di kota-kota besar, mungkin akibat
ketatnya kompetisi untuk bertahan hidup, sehingga kadang-kadang harus ditempuh jalan pintas, persaingan tidak sehat , membuat adab dan etika kadang-kadang terkesampingkan.
Contoh buruk juga dipertontonkan oleh sejumlah politisi terutama menyongsong Pilpres 2019 yang bukan saja mengabaikan adab dan etika, kadang-kadang membabi buta membela paslon mereka.
Adab dan etika menunjukkan karakter bangsa yang harus ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini, sehingga dituntut peran lebih besar sektor pendidikan.
Menyongsong revolusi industri 4.0, dituntut revolusi untuk meningkatkan adab dan etika agar Indonesia menjadi negara dan bangsa yang dihormati dan disegani.




