Adios el comandante Fidel Castro

fidel castro
Fidel Castro/ Ist

KEMATIAN dedengkot sisa-sisa laskar terakhir komunis, Fidel Castro (90) mengakibatkan kepedihan dan rasa duka mendalam bagi para pendukung dan pengagumnya, sebaliknya menjadi luapan kegembiraan dan rasa lega bagi rakyat yang merasa dizalimi, lawan atau yang membencinya.

Presiden Kuba yang juga adik kandungnya, Raul Castro dalam pesan singkatnya, hanya menyebutkan Fidel Castro meninggal pada Jumat (25/11) malam pukul 22.16 waktu setempat tanpa merinci lebih jauh penyebab kematiannya.

Kabar kematian sang komandan (el comandante dalam bahasa Spanyol)  sontak  mengubah suasana ibukota Kuba, Havana menjadi senyap dari kegiatan,  memasuki sembilan hari masa perkabungan. Sebagian warga terpaku di depan layar TV di rumah masing-masing menyaksikan tayangan kilas balik perjuangan sang pemimpin besar revolusi mereka dan mungkin juga mereka-reka apa yang akan terjadi sepeninggalnya nanti.

Suasana bathin berbeda ditunjukkan oleh para imigran Kuba di Miami, negara bagian Florida, AS. Miami paling banyak didiami oleh sekitar dua juta  pelarian asal Kuba yang berdatangan dengan berbagai cara, termasuk menyabung nyawa dengan menggunakan perahu-perahu terbuat susunan drum atau jeriken plastik yang digunakan mengarungi laut menuju daratan AS.

Sebagian mereka berhasil mencapai daratan kemudian meraih kebebasan dan kehidupan lebih baik, tetapi tidak sedikit yang meregang nyawa di tengah perjalanan.   Bagi mereka, sosok Castro tidak lebih dari seorang diktator bertangan besi dan berdarah dingin yang menebar malapetaka dan kesengsaraan.

Bakat Castro sebagai pemimpin sudah tampak dari sepakterjang dan kiprahnya sejak usia remaja. Dilahirkan di kota Biran, Provinsi Oriente,  Kuba timur pada 13 Agustus  1926, Castro memimpin upaya penggulingan kekuasaan terhadap diktator Fulgencio Batista, namun gagal dan ia terpaksa mendekam di bui.

Selepas dari penjara, Castro yang berduet dengan tokoh gerilyawan , Che Guavara berhasil menjatuhkan rezim Batista, kemudian pada 1959 dilantik menjadi perdana menteri Kuba dan sejak 1976 dipilih secara aklamasi oleh Majelis Nasional sebagai presiden. Agaknya karena merasa lelah dan uzur dimakan usia, ia  menyerahkan tampuk kepemimpinan Kuba kepada Raul Castro pada 2006.

Dipimpin Castro, Kuba – negara kecil berpenduduk sekitar 11 juta jiwa di kawasan Karibia – aktif ambil bagian di era Perang Dingin, berada di kubu Uni Soviet di tengah euforia dan romantisme perjuangan melawan apa yang disebut sebagai imperialisme Barat pimpinan AS.

Pada l961, pasukan yang setia pada Castro berhasil menumpas invasi bersenjata ke Teluk Babi di negara itu, oleh kelompok bersenjata berkekuatan 1.500 pelarian Kuba yang disponsori dan dilatih AS.

Lebih seribu pelakunya ditangkap, ratusan mengalami luka-luka dan lebih 100 tewas dalam penyerbuan tersebut.  Hasilnya,  AS merasa dipermalukan, sedangkan nama Castro semakin moncer dan dielu-elukan sebagai pahlawan oleh rakyat dan juga sebagian masyarakat dunia.

Dunia di ambang Perang Dunia III pada 1962 gara-gara penempatan rudal-rudal nuklir Soviet di Kuba yang mampu menjangkau kota-kota di AS.  Presiden AS John F Kennedy tidak kalah gertak, dan mengultimatum Soviet agar segera membongkar rudal-rudalnya. Jika tidak, AS akan menyerang Kuba.                                                              Dunia terhindar dari malapetaka setelah Soviet akhirnya “mengalah” dan   sebagai imbalannya, AS berjanji tidak akan menyerang Kuba. Bisa dibayangkan berapa juta manusia akan menjadi korban jika perang antara dua kekuatan nuklir itu benar-benar terjadi.

Tekad musuh-musuh Castro termasuk AS untuk mengenyahkannya dari muka bumi juga tidak tanggung-tanggung. Tercatat sebanyak 648 kali upaya pembunuhan dengan berbagai cara, dan semuanya menemui kegagalan.

Yang menjadi pertanyaan sekarang kemana akan Kuba beranjak sepeninggal Castro, sang pengagum dan pembela sepanjang masa paham Marxisme-Leninisme itu di tengah era keterbukaan dan globalisasi yang mengedepankan kemitraan saat ini.

Walau tidak sampai ambruk, perekonomian Kuba nyaris pada tingkat “zero growth” akibat isolasi dan sejumlah sanksi ekonomi yang dikenakan AS.  Dolar AS yang tidak diakui resmi sebagai alat pembayaran semasa rezim Castro nyatanya juga beredar di pasar gelap.                                                                                        Bahkan kabarnya, dokter, sarjana tehnik atau keahlian  lain yang dibutuhkan negeri, banyak yang beralih profesi menjadi pelayan hotel atau pemandu wisata agar kecipratan dolar dari wisatawan asing.

“Siapa yang ragu-ragu atau tidak ikut, akan tergilas roda-roda revolusi”, demikian semboyan yang digelorakan kaum revolusioner di era Perang Dingin lalu.

Itu dulu. Di era globalisasi dan demokratisasi saat ini, siapa yang tertutup, mau menang sendiri, tidak bisa bertoleransi dan bermitra, jangan menyesal jika menjadi  ketinggalan zaman atau ditinggalkan.

Masyarakat Indonesia yang “relijius” berazaskan Pancasila dan  menerima anugerah   keberagaman yang diikat dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika, tentu tidak perlu mengidolakan sosok Castro yang atheis. Namun demikian, goresan sejarah yang telah dilakoni oleh Castro tidak bisa dihapus begitu saja. Sekadar mencatat dan mengambil hikmahnya tidak salah rasanya.

Adios. Selamat Jalan, Fidel Castro.

 

 

Advertisement