spot_img

Agar Pilkada Terasa Beda

Agar Pilkada Terasa Beda

 

HARI Rabu 27 Juni 2018 kemarin,  Pilkada Serentak berlangsung di 17 propinsi, untuk memilih 39 walikota, 115 bupati, dan 17 gubernur. Agar Pilkada yang telah menjadi rutinitas itu terasa beda, banyak KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) yang menunjukkan kreativitasnya, sekaligus untuk meningkatkan partisipasi pemilih. Maka di sejumlah tempat TPS-nya terasa unik, ada yang bertema Piala Dunia, wayang orang, prajurit kratonan, makhluk planet bahkan hantu-hantuan.

Semenjak era reformasi, Pilkada (pemilihan Kepala Daerah) yang kemudian dimodifikasi menjadi Pilkada Serentak, menjadi rutinitas rakyat Indonesia. Sebentar-sebentar ada Pilkada, sebentar-sebentar ada Pilkada, kenapa Pilkada hanya sebentar? Ya memang harus sebentar, sebab bila di bilik TPS lebih dari 5 menit, habis waktu orang hanya untuk mengurus Pilkada.

Saking seringnya rakyat harus antre ke bilik TPS, banyak rakyat yang menjadi jenuh. Katanya pesta demokrasi, tapi anehnya, orang pesta tak ada makanan dan minuman. Pulang “pesta” perut tetap haus dan kerongkongan terasa lapar. Maka banyak rakyat yang skeptis, siapa pun yang jadi rakyat ya tetap begini-begini saja. Yang tukang macul, ya tetap harus bawa cangkul ke sawah. Yang jadi pemulung, ya tetap saja punguti plastik di gang-gang kampung.

Maka banyak diberitakan, tingkat partisipasi dalam Pilkada sering rendah. Untung masih banyak manusia Indonesia yang punya kesadaran tinggi bernegara. Ketika ditunjuk dan masuk dalam KPPS, mereka menunjukkan kreativitasnya, bagaimana agar pemilih tertarik datang ke TPS untuk melaksanakan hak pilihnya. Meski itu semua berlangsung garingan, alias tanpa makan dan minum, kecuali panitia penyelenggara.

Lewat kemampuan imajinasi masing-masing, kemarin terbetik berita begitu banyak TPS yang bernuansa unik. Misalnya TPS XI Bumiasri, Sengkaling Malang. TPS yang berlokasi di Blok M nomor 8 ini dihias semenarik mungkin dengan pernak-pernik sepak bola Piala Dunia. Maklum Haris Thofly anggota KPPS adalah juga Ketua Umum Askot PSSI Kota Malang.

Di kota Yogyakarta, TPS 5 RW 5 Ponggalan Umbulharjo petugas KPPS mengenakan pakaian wayang orang. Maka baru di Umbulharjo inilah ada Betara Narada sibuk menghitung kartu suara, sementara Betara Kresna raja Dwarawati panggil satu persatu pemilih. Hal yang sama juga dilakukan di TPS 10 Desa Baturan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Begitu juga di TPS 15 RW 09 kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman. Para petugas TPS mengenakan seragam prajurit Bregada Purbonegoro nama seorang tokoh yang diabadikan menjadi nama salah satu kampung Purbonegaran di Gondokusuman. Sebelum pencoblosan dimulai para petugas datang dikawal prajurit yang membawa tombak dan alat musik.

Mau lihat TPS versi memedi (hantu-hantuan)? Datang saja ke TPS 007 Gunung Brintik, Randusari Semarang. Suasananya sungguh horor, sebab semua anggota KPPS mengenakan hantu-hantuan. Yang jaga kotak suara pakai pocongan, ada juga keranda berikut “mayat”-nya, bahkan hiasan musik pun dipilihkan yang bernuansa mencekam seperti dalam tayangan Dunia Lain di TV.

Begitulah, demikian banyak TPS yang tampil unik di berbagai wilayah tanah air. Semua itu pakai anggaran sendiri, sebab dari pemerintah tak ada dana untuk pos begituan. Pilkada dibikin serentak juga karena negara kepengin ngirit. Meski sudah dibikin ngirit,  dana untuk Pilkada Serentak tak urung telah menghabiskan dana Rp 15,95 triliun. Mau ngirit nyatanya jadi ngorot (boros), itulah resiko berdemokrasi. (Cantrik Metaram)

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles