ANAK muda Indonesia yang pintar tapi malah berkarya di negri orang, mereka ini disebut diaspora. Mereka bertebar di 5 benua, dengan gaji yang besar tentunya, sehingga betah di luar negeri. Salah satunya adalah Ainun Najib (37), yang kini bekerja di Singapura. Kepintaran generasi muda NU di bidang IT ini telah membetot perhatian Presiden Jokowi, sehingga melalui Nadlatul Ulama Presiden Jokowi berharap Ainun Najib bisa dibajak untuk kembali ke Indonesia, berkarya untuk negeri sendiri.
Mendengar nama Ainun Najib, kebanyakan orang berfikir ke Emha Ainun Nadjib, budayawan dan pemikir NU. Tapi kok disebut anak muda, padahal Kyai Kanjeng ini usianya sudah di atas 60 tahun. Lagian, mana mau Emha Ainun Nadjib dipanggil pulang oleh Presiden Jokowi, karena dia pernah bilang, “Gengsi menginjak Istana di era Jokowi.” Ternyata oh ternyata, meski sama-sama kaum nadliyin, tapi Ainun Najib yang satu ini berasal dari Gresik, bukan dari Jombang.
Anak muda hebat macam Ainun Najib Gresik ini jumlahnya ombyokan di manca negara. Menurut catatan Peter Gontha dalam wawancaranya bersama para diaspora, ada 500-an diaspora kita tersebar di AS, Yunani, Australia, Jepang, Unggris, Belanda, Belgia, Jerman, dan yang dekat-dekat sini di Singapura. Gajinya gede-gede, sehingga betah di sana. Mereka tak ada lagi pemikiran pulang ke Indonesia, kecuali jika sudah pensiun nanti.
Kalau dipikir-pikir ala Basuki Srimulat, sebetulnya para diaspora itu tak ubahnya TKI saja. Bedanya TKI bermodal tenaga, sedangkan para diaspora modalnya otak. Awalnya para TKI bingung mencari pekerjaan (dalam negeri), sedangkan diaspora bingung memilih pekerjaan (luar negeri) saking banyaknya tawaran. Seperti Ainun Najib itu misalnya, meski sudah mapan kerja sebagai ahli IT di Grab Singapura, masih ada sejumlah perusahaan mencoba membajaknya dengan gaji yang lebih gede.
Kini yang mencoba membajak Ainun Najib bukan sekedar perusahaan, tapi justru Presiden RI, Joko Widodo. Presiden kagum atas prestasi anak muda ini, yang telah berhasil menjadi inisiator situs KawalPemilu.org juga KawalCovid19. Sayang kan, jika prestasi anak muda ini justru nglelemu (baca: menguntungkan) bangsa lain, padahal Indonesia sendiri sangat membutuhkan.
Hanya saja Presiden Jokowi agaknya kurang pede untuk membajaknya langsung. Sebab konsekuensi pembajak tenaga khusus, harus siap dengan resiko fulus. Ketika Ainun Nadjib di Singapura bergaji Rp 95 juta sebulan, bila ditarik ke Indonesia pemerintah harus mampu menggaji lebih tinggi, misalnya Rp jadi Rp 125 juta. Tapi apa iya, lha wong Presiden RI saja gajinya hanya Rp 61 juta sebulan. Untung saja Presiden Jokowi sudah tidak repot menyekolahkan anak, dan rumah dinas beserta kendaraan ditanggung negara.
Presiden memang banyak akalnya, sehingga dicobalah lewat pendekatan lewat Kiyai-Kiyai NU. Bila yang meminta mereka, sebagai kaum nadliyin yang dikenal selalu taat pada ulama dan umaro, siapa tahu Ainun Najib mau kembali ke Indonesia berkarya bagi bangsanya meski gajinya tak sebesar di Singapura.
Tetapi coba simak komentar para warganet di media online. Mayoritas mereka jadi “provokator” untuk menolak tawaran Presiden. Sebab bekerja di pemerintah itu gajinya selalu lebih kecil, dan masa jabatan Presiden Jokowi tinggal 2 tahun. Jika Jokowi sudah tak menjabat, bisa saja nasib Ainun Najib terlantar karena Presiden penerusnya tak memperhatikan. Apa bukan jadi lebai malang, namanya?
Ainun Najib sudah tahu akan permintaan Presiden Jokowi. Tapi dia sendiri hingga hari ini mengaku belum ada permintaan resmi. Mungkin para Kiai ini “kikuk” jadinya untuk merayu Ainun Najib, sehingga belum ada yang menindaklanjuti permintaan presiden. Di satu sisi para Kiyai harus patuh pada umaro, tapi di sisi lain, apakah Ainun Najib ada jaminan bisa patuh pada ulama?
Jangan dibandingkan dengan BJ Habibie yang diminta oleh Presiden Soeharto dan Sri Mulyani yang diminta kembali oleh Presiden Jokowi. Mereka berdua ini orang-orang yang sudah selesai dengan masalah perekonomian keluarga, yang begitu kembali langsung diberi posisi sebagai menteri. Sedangkan Ainun Najib, apakah mungkin juga dijadikan menteri sebagaimana BJ Habibie dan Sri Mulyani.
Jika para diaspora tak mau bekerja di dalam negeri, sebetulnya bukan saja soal gaji yang kecil, tapi memang keahlian mereka kebanyakan belum ada pasarnya di Indonesia. Mereka juga kecewa karena masalah riset di dalam negeri belum dihargai maksimal. Dan kebanyakan para diaspora yang kembali ke Indonesia, malah dijadikan birokrat, tak lagi menekuni keahliannya. Bagaimanapun kepuasan batin lebih tinggi nilainya ketimbang kepuasan keuangan! (Cantrik Metaram).





