Menurut penelitian, hanya 0,003% jumlah air di bumi ini yang dapat dimanfaatkan, kendatipun permukaan bumi ini 70% nya terisi air.
Seperti air laut, misalnya, karena sebagian besar air laut mengandung garam yang kadarnya masih belum layak untuk dikosumsi manusia. Apalagi yang masih tersimpan di ke dalaman tanah, di lapisan kutub.
Jim Woodcock menyebutkan dalam penelitannya, tercatat 100.000 bayi di Indonesia meninggal dunia setiap tahunnya disebabkan diare.
Di Pontang Serang Banten. Di kawasan ini warga mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Untuk mendapatkannya warga butuh sumur dengan kedalaman minimal 100 meter. Bagi warga yang tidak punya sumur, maka tak heran, mereka mandi, mencuci dan buang hajat pada satu tempat, yaitu di sungai yang tidak bersih.
Patut disyukuri, Sabtu, 19 Maret 2016. Amanah dari masyarakat disalurkan oleh Dompet Dhuafa dengan bekerjasama PT. Asuransi Takaful dilakukan peresmian Program Air Untuk Kehidupan di Desa tersebut. Sebuah wujud ikhtiar bersama demi memberikan akses air bersih untuk warga masyarakat.

Air untuk kehidupan adalah salah satu program Semesta Hijau Dompet Dhuafa yang terinisiasi dengan ikut melibatkan masyarakat (parsitipatori).
Program ini sebagai upaya untuk penyediaan air bersih serta infrastruktur sanitasi yang layak. Hingga kini, tercatat sudah 39.000 penerima manfaat program Air Untuk Kehidupan yang tersebar di 15 titik terbentang dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur.
Program ini dilakukan dengan pipanisasi, pengeboran, penampungan air dan desalinasi..
Cerita Air Untuk Kehidupan masih berlangsung di Kabupaten Gunung Kidul hingga kini. Kita semua tahu, masyarakat di sana sebagian besar masih sulit mendapatkan akses air bersih disebabkan jauhnya sumber air bersih dari tempat tinggal mereka. Kondisi semakin parah bila tiba musim kemarau yang berakibat mengeringnya sumur di rumah-rumah warga.
Berdasarkan hasil assessment Tim Semesta Hijau Dompet Dhuafa, kondisi perekonomian yang minim juga berakibat terhadap semakin terbebaninya warga di Gunung Kidul.
Mau tidak mau, mereka harus membeli air isi ulang guna memenuhi kebutuhan dasar hidup seperti minum, mandi dan memasak.
Bersama seluruh lapisan masyarakat dan Relawan Dompet Dhuafa Jogja, dibangunlah 14 bak penampungan air hujan di 10 titik lokasi yakni di Kecamatan Tepus, Girimukti dan Petir. Dengan dibangunnya bak penampungan ini, sebanyak 400 kepala keluarga menjadi pemetik manfaat. Mereka terbantu dengan semakin mudahnya memperoleh air bersih yang layak konsumsi.
Mewujudkan masyarakat berdaya yang bertumpu pada Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam yang berkelanjutan melalui sistem yang berkeadilan adalah visi Semesta Hijau Dompet Dhuafa. Semoga Air Untuk Kehidupan terus mengalir tak henti karena dukungan kita semua. Sebuah program yang mampu mengentaskan kemiskinan secara efektif dengan disertai upaya mempertahankan hijaunya semesta.
Ayo bersama membentang kebaikan…




