TAPSEL – Tersebutlah di sebuah Desa Aek Badak Jae, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, tinggal-lah seorang Ibu bernama Nani Dalimunte, 34 tahun. Kini ia harus menanggung beban hidup yang amat sangat berat, karena sejak 6 bulan lalu ia ditinggal mati oleh sang suami, Mara Fahmin Batu Bara wafat (2/4/2015). Kini Nani harus berjuang menghidupi ketiga orang anaknya seorang diri. Sementara saudara dari pihak Nani maupun Suami, tidak mungkin dimintai tolong, karena nasib mereka juga dalam keterbatasan.
Dua dari tiga anak Nani menderita sakit, Alawi (11 tahun) lumpuh karena sakit polio dari waktu kecil dan sibungsu Aldan menderita sakit kencing batu, sehingga ia sulit buang air kecil. Yang sehat satu-satunya adalah Citra berumur 8 tahun. Citra pulalah yang merawat Alawi dan Aldan semasa ibunya mencari nafkah sehari-hari.
Cerita ini dikisahkan oleh salah seorang yang peduli terhadap nasib bu Nani yang tinggal di rumah papan sederhana ini kepada KBK melalui chat selular. Ia adalah Wiwit, kebetulan tidak sengaja melihat Citra sedang menyuapi kakaknya Alawi yang tengah tidur.
Wiwit sendiri, bukan tinggal di kampung Aek Badak, tapi ia tinggal di kampung lain Desa Aek Mual, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, yang berjarak 10 Km dari sana. Wiwit pergi ke Aek Badak mengunjungi temannya yang kebetulan melewati rumah Bu Nani itu. Rumah temannya berada di desa yang sama.





Melihat Citra yang tengah menyuapi kakaknya yang terbaring tak berdaya, membuat Wiwit penasaran. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya tentang perihal Bu Nani dan keluarganya. Terungkaplah kisah ini yang kemudian disampaikan ke KBK dengan harapan ada dermawan yang dapat membantu.

Seperti diceritakan Wiwit, pekerjaan sehari-hari Bu Nani adalah seorang buruh Tani (di ladang orang), jika musim tanam tiba, maka Nani mempunyai kesempatan untuk bekerja di ladang orang, tapi jika tidak musim tanam maka Nani hanya bekerja sebagai penganyam keranjang buah, dengan penghasilan Rp9.000 – Rp15.000., per hari.
“Yang amat sangat menyayat hati adalah ketika Nani harus bekerja di kebun orang, maka Nani harus meninggalkan buah hatinya, Alawi di rumah dengan keadaan pintu terkunci, karena Citra dan Aldan pergi sekolah. Barulah ketika Citra pulang sekolah rumah dibuka dan Citra menyediakan makan untuk kakaknya Alawi dan Aldan. Bahkan kalau si Abang, Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK), Citra jualah yang membersihkan dan mengganti celana abangnya,” tutur Wiwit mengisahkan.
Ditambahkan Wiwit, saat ini mereka tinggal di sebuah rumah di atas tanah masyarakat dekat dengan pembuangan sampah, walau seperti itu pun mereka sudah bersyukur karena warga masih membiarkan mereka mendapat tempat tinggal. Namun seiring berjalannya waktu Alawi pun semakin beranjak dewasa dan bertambah besar pertumbuhannya, Nani sangat berharap akan ada keajaiban yang bisa memberikan kursi roda untuk buah hatinya yang amat Ia sayangi sehingga Alawi tidak hanya bisa terbaring di dalam rumah saja, tapi bisa juga berjalan-jalan keluar rumah.
Ibu Nani belum terdaftar sebagai peserta BPJS dan ia tidak memiliki kartu sakti. Namun ia mendapat bantuan Raskin (beras untuk orang miskin) walaupun tidak rutin datangnya, ia pun pernah mendapatkan bantuan pemerintah untuk anak cacat yang datang setahun sekali sekitar Rp1.200.000. Kini Wiwit berharap dermawan mau berbagi untuk Bu Nani dan keluarganya ini. Terutama untuk pengadaan kursi roda untuk Alawi dan pengobatan kencing batu untuk Aldan. Tentu juga dibutuhkan pembiayaan sekolah Citra dan bantuan solusi untuk pembiayaan sehari-hari untuk mereka.
Akankah tangan ‘malaikat’ membantu Nani? Wallahualam.





