KETIKA kemarin Ahok mantan Gubernur DKI selepas bebas dari Rutan Mako Brimob malamnya ke rumah OSO (Osman Sapta Odang) Ketum Hanura, banyak yang salah duga. Dikiranya mau gabung ke Partai Hanura, ternyata hanya sekedar untuk mengembalikan akik mirah delima yang pernah dipinjamkan OSO selama “bertapa” di Rutan Mako Brimob, Depok. Kata orang, akik jenis ini harganya bisa sampai miliaran. Bagaimana dengan akik Klabang Sayuta milik Lawa Ijo, musuh Mahesa Jenar tokoh cerita silat dalam buku “Nagasasra-Sabuk Inten” karya SH Mintardjo?.
Akik adalah jenis bebatuan yang punya penggemar tersendiri, bahkan ada yang percaya punya khasiat khusus yang bernilai tambah bagi pemiliknya. Seputar tahun 1977-an penulis pernah diberi kenang-kenangan sejumlah batu akik oleh ibu Amir Biki, tokoh peristiwa Tanjung Priok. Tapi karena penulis tak suka batu-batu begituan, cuma digeletakin di kamar mandi dan akhirnya terbuang entah ke mana.
Padahal bagi para penggemarnya, batu akik adalah bebatuan istimewa yang punya daya tarik tersendiri. Bahkan ada yang mempercayai, batu akik dengan emban (cincin pengikat) tertentu bisa memberikan nilai tambah bagi pemiliknya, dari rejeki sampai derajat atau harga diri. Akik jenis begini khasiatnya begini, akik jenis begitu khasiatnya juga begitu
Maka di Solo tahun 1970-1990 majalah bahasa Jawa “Parikesit” punya rubrik perbintangan yang juga bahas soal per-akikan. Kyai Sekar Putih setiap minggunya selalu menganjurkan pembacanya lewat rubrik Pawukon: sesotya akik manca warna embane selaka. Minggu depan lagi sarannya berbeda: sesotya zamrud embane suwasa. Padahal aslinya, Drs. Busro Haryono sendiri selaku pengasuhnya tak pakai akik, tapi sepertinya pakar soal per-akikan.
Batu akik punya nama-nama keren, yang konon beda jenis beda pula khasiatnya. Ada blue safier, widuri, mirah delima, kecubung, giok, alexandrie, pyrus, dan masih banyak lagi. Bagi sang penggemar, batu-batu akik itu terasa indah menawan. Tapi bagi mereka yang tak menyukai, ada batu akik berwarna merah dan hijau mengkilap, di matanya seperti permen Relaxa habi diemut!
Di Pasar Rawabening (Jatinegara) Jakarta Timur, hingga sekarang masih ada los yang khusus berjualan batu akik. Bahkan beberapa waktu lalu bertebaran orang jualan batu akik lengkap dengan kios dan mesin kikir batunya. Harganya macem-macem, dari yang sekitar Rp 50.000,- sampai jutaan. Calon pembeli berkerumun, ada yang jajal barang, ada pula pula yang sekedar melihat-lihat.
Orang penggila akik kadang-kadang aneh. Di berbagai kesempatan batu akiknya selalu digosok-gosok. Bahkan saking demennya sama akik, tak peduli akan estetika. Jari jemari tangannya kanan kiri, kecuali jempol semua dipasangi cincin baerbatu akik dengan ukuran gede. Pelawak Tessy misalnya, dia salah satu akik maniak.
Boleh ada akik yang aneh seperti milik OSO yang dipinjamkan ke Ahok, tapi akik paling berkhasiat tentunya milik Lawa Ijo, tokoh silat beraliran hitam dalam buku “Keris Nagasasra-Sabuk Inten”. Murid Pasingsingan dari alas Mentaok ini adalah musuh utama Mahesa Jenar setelah Jaka Soka dari Nusakambangan. Dengan akik Klabang Sayuta, dia pede bertempur malawan Mahesa Jenar. Tapi dihantam aji Sasrabirawa dari tangan Mahesa Jenar, dia hampir mati membentur pohon. Beruntung tiba-tiba muncul Pasingsingan bertopeng dan menangkap Lawa Ijo yang tengah melayang deras nyaris menghantam pohon. Selamatlah Lawa Ijo. (Cantrik Metaram)





