AKSI bom bunuh diri di dekat halte TransJakarta di Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu malam, terjadi selang dua hari setelah dunia berduka akibat kejadian serupa di kota Manchester, Inggeris yang menewaskan 22 orang dan 50 lainya luka-luka.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan rasa duka pada rakyat Inggeris, PM Turki Tayipp Erdogan mengecam serangan itu dan mengatakan, warga Turki yang pernah menjadi korban aksi-aksi teroris berbagi rasa sakit dengan warga Inggeris.
Sedangkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebutkan aksi yang terjadi di Inggeris tersebut pebuatan angat buruk, sementara pemerintah Indonesia juga menyampaikan belasungkawa terhadap para korban dan mengecam serangan itu.
Pada peristiwa di kawasan Kp. Melayu, dua diduga pelaku (AS dan I) tewas dengan kondisi mengenaskan, tiga angota polisi gugur yakni Bripda Ridho Setiawan, Bripda Taufan Tsunami dan Bripda Imam Gilang Adinata serta enam   lainnya luka-luka (Bripda: Agung,  Fuji, Yogi, Pandu Dwi dan Sukron) .
Mengingat korban sebagian besar anggota polisi yang sedang mengawal pawai obor sekelompok massa untuk menyambut Ramadhan, kemungkinan motif aksi pemboman adalah balas dendam terhadap institusi kepolisian.
Enam warga sipil: Agung (supir Kopaja), Damai (supir Mikrolet), Tasdik (karyawan Mandiri), dan dua mahasiswi (Susi Afitriyani dan Jihan) yang seang berada di lokasi saat kejadian juga mengalami luka-luka.
Sejauh ini identitas pelaku sedang dicocokkan dengan DNA mereka, namun sudah dipastikan alat peledak yang digunakan adalah bom panci, mirip yang digunakan  dalam aksi teror di Kantor Kelurahan Arjuna,  Cicendo, Bandung, 27 Februari lalu.
Aksi teroris menyisakan trauma mendalam bagi para penyintas yang menjadi korbannya, keluarga, sanak kerabat dan orang-orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri kejadian itu.
Sebaliknya, aksi-aksi terorisme sukar diantisipasi, walau oleh negara-negara dengan sistem keamanan canggih dan berlapis-lapis sekali pun.
Negara adidaya AS contohnya, tidak berdaya menghadapi aksi bunuh diri yang menelan ribuan nyawa pada peristiwa runtuhnya gedung WTC New York, pada 11 September 2001.
Sistem peringatan dini pertahanan AS yang mampu menangkal serangan dari luar, termasuk melacak persiapan yang dilakukan di pangkalan musuh untuk melakukan serangan atau menghadang rudal balistik sebelum memasuki atmosfir wilayahnya menjadi sia-sia melawan serangan terorisme.
Dengan menggunakan pesawat komersial melalui jalur penerbangan sipil domestik, pesawat yang dikemudikan teroris berhasil mengelabui sistem pertahanan udara AS, bahkan berhasil menembus markas besar pertahanan di kompleks  Pentagon.
Aksi-aksi teroris di Eropa
Ibukota Inggeris, London sejak 2015 telah dijambangi tiga kali aksi teroris dengan korban tewas 58 orang, semengtara ibukota Perancis, Paris juga mengalami tiga kali serangan teroris yang menewaskan 148 orang.
Kota-kota lain di Eropa yang mengalami aksi teroris dengan jumlah korban cukup besar yakni Madrid, Spanyol dengan 191 korban (Maret 2004), Ankara, Istanbul dan Gaziantep di Turki dengan beberapa kali serangan sejak 2015 dengan korban tewas masing-masing 104 dan 102 dan 57 orang.
Sejumlah kota-kota lainnya di Eropa juga tidak luput dari serangan teroris seperti Berlin Jerman, Brussels Belgia, Stockholm Swedia.
Di Indonesia, kasus pemboman yang menarik perhatian media a.l. di Bali yang menewaskan 202 orang (12 Okt. 2002), di Hotel JH Marriot, Jakarta  merenggut sembilan korban jiwa (17 Juli 2009) dan di kawasan MH Thamrin, Jakarta dengan korban delapan orang tewas (14 Jan. 2016).
Aksi-aksi teroris yang telah banyak merenggut nyawa korban di berbagai negara di dunia, tidak bisa dilawan sendiri-sendiri, tetapi harus diperangi bersama-sama dengan menggalang kemitraan global.
Tekad bersama untuk bahu-membahu melawan terorisme dan radikalisme yang dicanangkan dalam KTT Amerika Serikat dan Dunia Islam yang dihadiri lebih 50 kepala pemerintahan dan kepala negara di Riyadh, Arab Saudi, Minggu (21/5) perlu disambut baik.
Namun demikian, seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo, sebelum menggalang kemitraan dengan pihak luar, yang perlu dilakukan terlebih dulu adalah membangun pemahaman antarumat sendiri, untuk meluruskan cara pandang yang keliru.
Jokowi mengingatkan, upaya persuasif melalui pendekatan agama dan budaya yang diseimbangkan dengan pendekatan hukum harus tetap dikedepankan, sedangkan penggunaan kekuatan adalah upaya terakhir.
Introspeksi, kemudian menggalang kemitraan, adalah dua langkah yang perlu diwujudkan guna membasmi mata rantai aksi terorisme dan radikalisme.
um harus tetap dikedepankan, sedangkan penggunaan kekuatan adalah upaya terakhir.
Introspeksi, kemudian menggalang kemitraan, adalah dua langkah yang perlu diwujudkan guna membasmi mata rantai aksi terorisme dan radikalisme.





