Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Didominasi Pelepasan Gas

Ilustrasi Gunung Merapi Jawa Tengah/Ist

YOGYAKARTA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi menyebut meski tidak ada lagi letusan setelah 24 Mei 2018, namun aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang berada di perbatasan DIY dan Jawa Tengah masih tinggi  didominasi pelepasan gas.

Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso mengatakan dominasi aktivitas pelepasan gas dapat ditunjukkan dengan munculnya kegempaan multifase, guguran dan hembusan yang cukup tinggi.

Pascaletusan terakhir pada 24 Mei, terjadi gempa multifase dua kali per hari, guguran tujuh kali per hari, hembusan tiga kali per hari, gempa vulcano tektonik dan tektonik masing-masing satu kali per hari.

Agus menyebut, tingginya aktivitas pelepasan gas di Gunung Merapi dapat disebabkan beberapa faktor, di antaranya sumbat di puncak gunung sudah terbuka pascaletusan pada 11 Mei.

“Sebagai gunung api aktif, Merapi memproduksi gas secara terus-menerus. Karena sumbat di puncak sudah terbuka, maka gas pun mudah terlepas menjadi embusan,” tuturnya.

Aktivitas tersebut, lanjut Agus, berbeda dengan aktivitas yang terjadi di Gunung Merapi sebelum letusan pada 2006 dan 2010. Pada saat itu, sumbat cukup kuat sehingga gas yang terbentuk menyebabkan akumulasi tekanan yang kuat dan langsung menyebabkan letusan magmatis.

Selain itu, lanjut dia, aktivitas pelepasan gas juga bisa disebabkan oleh pergerakan magma. “Kami akan pantau terus untuk melihat tanda-tanda adanya pergerakan magma ini,” ujarnya.

 

Advertisement