Anak Krakatau Erupsi, Benarkah Bisa Memicu Gempa di Patahan Sunda?

JAKARTA, KBKNEWS.id – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan aktivitas vulkanik tersebut memicu gempa tektonik di wilayah Selat Sunda.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa erupsi Anak Krakatau memang dapat memicu getaran atau gempa di wilayah sekitar gunung. Namun, hubungan antara aktivitas vulkanik dan gempa tektonik tidak selalu berarti adanya hubungan sebab-akibat secara langsung.

Menurut Daryono, aktivitas vulkanik dan tektonik berada dalam satu kawasan yang memiliki sistem tektonik aktif. Saat terjadi erupsi besar, migrasi magma menuju permukaan dapat menyebabkan rekahan batuan di dalam tubuh gunung. Kondisi tersebut kemudian memicu gempa vulkanik dan getaran di sekitar gunung.

“Pada kasus yang sangat masif, runtuhnya kantong magma dapat memicu getaran mikro hingga sedang di area lokal, tapi hanya di sekitar gunung api saja,” kata Daryono, dikutip dari Kompas TV, Selasa (8/9/2026).

Ia menambahkan, hubungan antara aktivitas vulkanik dan tektonik juga dapat berlangsung dari arah sebaliknya. Gempa tektonik dapat meningkatkan aktivitas erupsi apabila gunung api tersebut memang sedang berada dalam kondisi aktif.

“Sehingga bisa dikatakan bahwa gempa tektonik akan memicu peningkatan erupsi bilamana gunungnya itu memang sedang aktif,” jelasnya.

Meski demikian, peningkatan aktivitas vulkanik maupun tektonik tidak serta-merta menunjukkan bahwa keduanya saling menyebabkan dalam jangka pendek.

Daryono menjelaskan, gempa tektonik lokal pada dasarnya dipicu oleh pelepasan energi atau regangan pada patahan. Sementara itu, aktivitas kegempaan yang berkaitan dengan Anak Krakatau lebih berhubungan dengan pergerakan fluida dan magma di dalam sistem gunung api.

Erupsi Anak Krakatau

Erupsi Gunung Anak Krakatau telah berlangsung sejak 4 September 2026 dan aktivitasnya dilaporkan terus mengalami penurunan.

Pada periode puncak erupsi, abu vulkanik yang disemburkan mencapai ketinggian sekitar 15.000 kaki atau 4.500 meter dari lubang semburan.

Aktivitas tersebut juga sempat menimbulkan suara gemuruh yang terdengar di sejumlah wilayah. Selain itu, hujan abu vulkanik terjadi di beberapa daerah dan aktivitas penerbangan di sejumlah bandara turut mengalami gangguan.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat di sekitar Selat Sunda tetap perlu mengikuti informasi resmi dari BMKG, Badan Geologi, dan otoritas kebencanaan terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun potensi gempa.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here