JAKARTA – Dompet Dhuafa akan menggunakan wadah besek yang terbuat dari bambu dalam program Tebar Hewan Kurban (THK) tahun ini.
Alasannya, diharapkan bisa lebih ramah terhadap alam, lantaran bahan dasar besek bisa langsung terurai oleh alam.
“Tahun ini kita juga mengurangi penggunaaan kemasan plastik. Seperti yang kita ketahui plastik mengganggu lingkungan hidup. Kita akan mengganti kemasan yang ramah lingkungan, seperti daun jati atau pisang, dan besek dari bambu,” jelas Dian Mulyadi, selaku Manager Corporate Communication Dompet Dhuafa.
Selain bisa diurai kembali ke alam, kampanye tersebut juga bisa membantu ekonomi pengrajin besek yang masih terpinggirkan. Efek samping berupa perputaran ekonomi bagi pengusaha kecil lah yang menjadi nilai plus penggunaan besek. Semangat pemberdayaan yang biasa Dompet Dhuafa kampanyekan, kembali diaplikasikan di progam TKH tahun ini.
Diketahui Indonesia dinobatkan menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah Cina. Ketergantungan masyarakat terhadap plastik masih sangat besar. Limbah plastik yang terbuang sekali pakai, menyebabkan pencemaran lingkungan. Karena tidak dapat diurai oleh alam. Bencana alam seperti banjir juga disebabkan salah satunya oleh menumpuknya sampah plastik.
Dian menjelaskan bahwa penggunaan besek sudah dirancang Dompet Dhuafa dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan penggunaan besek sudah diuji coba pada progam THK 2018 lalu.
“Kita sudah melakukannya dari tahun kemarin. Kita gunakan untuk menyebarkan 50 ekor kurban di wilayah Jampang, Bogor. Antusias masyarakat sangat mengapresiasinya. Karena sama sekali tidak ditemukan sampah plastik,” tambahnya.
Seperti yang telah diberitakan, THK Dompet Dhuafa tahun ini menargetkan sebanyak 30.000 ekor kurban setara domba dan kambing (Doka). Dari jumlah tersebut, akan menyasar ke 34 provinsi di Indonesia dan 9 negara konflik.
Semangat pemberdayaan peternak di daerah-daerah masih menjadi ciri khas THK Dompet Dhuafa tahun ini dengan menggandeng 77 mitra kelompok ternak di seluruh Indonesia.





