Ini Alasan Mengapa TKI Masih Banyak di Suriah

Ilustrasi/ Foto: hetanews.com

JAKARTA –Sampai akhir tahun lalu masih saja ada TKI yang masuk ke Suriah.

Pejabat Direktorat Perlindungan Warga Negara dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Indonesia, Rahmat Hindiarta mengungkapkan beberapa alasan mengapa masih banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang masuk ke Suriah.

Indonesia sejatinya sudah memberlakukan moratorium pengiriman TKI ke negara Timur Tengah, khususnya Suriah.

Rahmat mengatakan, ada beberapa alasan mengapa masih banyaknya TKI yang masuk ke Suriah secara ilegal. Pertama, Suriah tidak pernah mengakui adanya moratorium, dan kedua adanya permintaan sangat tinggi akan TKI di Suriah.

“Di Suriah TKI yang masuk tidak pernah dianggap ilegal. Kita sudah berbicara sejak 2011, dari berbagai level, mulai dari selevel saya, hingga level Wakil Menteri Suriah. Kita berdebat, kita kirimkan surat resmi, dan lain sebagainya, jawaban mereka satu, bagi siapapun yang masuk Suriah, punya dokumen Suriah, walaupun tidak punya dokumen Indonesia bukan pendatang ilegal, bukan korban TPPO,” kata Rahmat dilansir Sindo Jumat (13/01)

“Kenapa demikian? mayoritas pejabat di Suriah punya TKW asal Indonesia. Di sana saat ini kita masuk daftar eksportir TKI, total ada enam negara, tapi yang lain hiasan saja. Mereka inginnya tenaga kerja dari kita,”imbuhnya.

Dia menyebut sudah pernah bertemu dan berbicara dengan salah seorang agen yang memasukan TKI ke Suriah. Menurut keterangan agen itu, para pejabat dan petinggi Suriah masih terus meminta adanya tenaga kerja asal Indonesia, dan harga TKI sangat tinggi di Suriah.

 

“Sudah ada kolaborasi, kepentingan pejabat yang diakomodir sama agen, dan harga tinggipun mereka bayar. Sebelum konflik majikan membayar USD 4.000. sekarang sekitar USD 1.0000 perorang,” tukasnya.

Ketika ditanya mengenai apakah Indonesia tidak bisa menekan Suriah di forum internasional, menurutnya sulit. Sebab, Suriah sudah tidak lagi menjadi anggota organsasi internasional, termasuk juga organisasi dagang internasional.

 

 

Advertisement