Aljazair: Bouteflika Menghitung Hari

Gelombang unjukrasa massa di Aljiers terus berlangsung, mendesak Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika (82) yang sakit-sakitan dan stroke lengser setelah berkuasa 20 tahun.

DUA DASAWARSA kepemimpinan Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika (82) agaknya sudah tidak bisa dipertahankan lagi, dan ia kini menjelang penghujung hari-hari terakhir singgasananya.

Kemungkinan bakal lengsernya Bouteflika yang sudah gaek, sakit-sakitan dan terkena stroke pada 2013 diberitakan antara lain oleh Stasiun TV swasta setempat, Ennahar dan El Bilad.

Bahkan mengutip sumber yang dirahasiakan, TV El Bilad menyebutkan pengunduran Boutefika bakal terjadi dalam pekan ini, sementara media pemerintah sendiri belum mengeluarkan pernyataan apa-apa.

Berita spekulasi semakin santer setelah salah seorang dekatnya, KSAB Letjen Jenderal Ahmed Salah menyerukan Mahkamah Konstitusi untuk meyatakan Bouteflika sakit permanen sehingga tidak mampu bertugas sebagai kepala negara.

Signal mengenai rencana penngunduran diri Bouteflika makin menguat setelah ia menetapkan kabinet sementara dipimpin oleh PM Noureddine Bedoi.

Letjen Salah menganggap penting mencarikan solusi krisis politik di negeri itu dengan merespons kehendak rakyat sesuai pasal-pasal yang tercantum dalam konstitusi.

Pasal 102 UUD Aljazair menyebutkan, presiden yang sakit secara permanen dimungkinkan untuk mengundurkan diri atau menghadapi ketetapan MK yang menyatakan presiden tidak mampu memimpin.

“MK harus mendesak Bouteflika lengser atau secara medis menyatakan ia tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai presiden, “ tandasnya.

Satu juta massa
Sekitar satu juta massa mulai dari berbagai kalangan muda sampai veteran perang turun ke jalan-jalan di seputar kantor pos di ibukota Alzier yang menjadi titik kumpul, Jumat (29/3) pekan lalu dengan mengusung spanduk-spanduk memuat desakan agar Bouteflika lengser.

Bouteflika pertama kali menduduki singgasana kepresidenan pada 1999 dan terpilih lagi berturut-turut dalam pilpres 2004, 2009 dan 2014.
Selain sudah renta dan sakit-sakitan, 20 tahun berkuasa cukup lama, dan kini nasibnya ditentukan oleh rakyat.

Pernyataan Bouteflika akan segera lengser dan tidak lagi nyapres dalam Pemilu yang akan digelar April, 2019 demi meredam aksi besar-besaran 10 Maret lalu ternyata malah membuat massa berang karena menganggap ia hanya mengulur-ulur waktu.

Harta dan kekuasaan hanyalah titipan Allah, jika sudah waktunya, suka atau tidak harus rela dilepaskan. (Reuters/AFP/AP/ns)

Advertisement