
GELOMBANG aksi unjukrasa akhirnya berhasil memaksa Presiden Aljazair, Abdelaziz Bouteflika (82) yang berkuasa selama dua dekade mengurungkan niatnya mencalonkan kembali untuk kelima kalinya.
Pernyataan Bouteflika setelah kepulangannya ke tanah air untuk menjalani terapi kesehatan di Jenewa, Swiss, Minggu malam (10/3) disambut luapan kegembiraan massa yang mendambakan perubahan situasi politik di negeri itu.
Selain uzur karena dimakan usia, Bouteflika yang menderita kanker dan pernah mengalami stroke, dan dalam beberapa tahun belakangan ini memang sering keluar-masuk rumah sakit di Swiss.
Keputusan penting yang diambil presiden gaek itu selain mundur dari panggung politik untuk tidak mencalonkan diri dalam pilpres yang akan digelar 18 April dan sekaligus menunda pelaksanaan pilpres tersebut.
Sebelum pilpres digelar, Bouteflika juga berniat menyelenggarakan konferensi nasional guna merumuskan konstitusi baru Aljazair, negara terbesar di tepi Laut Merah yang merdeka dari Perancis pada 1962.
Konferensi nasional, menurut Bouteflika, akan dilakukan secara inklusif dan independen guna merancang UUD baru yang akan ditawarkan pada rakyat melalui referendum.
Risalah Umat.
Selain mundur sebagai capres dan menunda penyelenggaraan Pilpres, Bouteflika saat menyampaikan paket solusi politik yang disebutkannya sebagai “risalah bagi umat” Senin malam (11/3) waktu setempat, juga merombak susunan kabinetnya.
Bouteflika mengangkat Mendagri, Noureddine Badawie menjadi perdana menteri, menggantikan Ahmed Ouyahia yang mengundurkan diri.
Walau Bouteflika agaknya cukup kompromis untuk mengakomodasi desakan rakyatnya, ribuan massa masih turun ke jalan-jalan di sejumlah kota, menuntut perubahan cepat di negara itu.
StasiunTV Ennahar melaporkan, pekerja mogok sejak Selasa hingga melumpuhkan aktivitas bongkar-muat di pelabuhan Bajala yang menghadap Laut Tengah, melanjutkan aksi sehari sebelumnya sebagai luapan kegembiraan massa merespons pengunduran Boteflika sebagai capres.
Situasi politik di negeri berpenduduk 37 juta bekas jajahan Perancis itu bergejolak setelah Bouteflika dalam jumpa pers 10 Februari lalu memastikan diri ikut pilpres April nanti.
Bouteflika pertama kali menduduki singgasana kepresidenan pada 1999 dan terpilih lagi berturut-turut dalam pilpres 2004, 2009 dan 2014.
Selain sudah renta dan sakit-sakitan, 20 tahun berkuasa cukup lama, dan kini nasibnya ditentukan oleh rakyat.
Fox populi fox dei. Suara Rakyat, Suara Tuhan. (AP/AFP/Reuters/ns)




