Konflik Hamas -Israel Sulit Didamaikan

Perundingan Kairo (14/2) antara wakil AS, Mesir dan Qatar untuk mendamaikan konflik Hamas vs Israel di Gaza belum membuahkan hasil.

KONFLIK antara milisi Hamas dan Israel di wilayah Gaza, Palestina sejak 7 Februari sudah memasuki hari ke-130, namun negosiasi gencatan senjata sejauh ini masih menemui jalan buntu, belum ada titik terangnya.

Pembicaraan terakhir digelar di Kairo, Rabu (14/2) antara Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi, Direktur Badan Intelijen AS (CIA), dan PM Qatar Sheikh Muhammed bin Abdulrahan bin Jassim al-Thani membahas isu gencatan senjata dan perlindungan bagi warga sipil dan upaya membuka akses bagi bantuan kemanusiaan.

Konflik berdarah yang sejuah sudah menewaskan lebih 27.000 warga Palestina dan puluhan ribu lainya luka-luka, berlangsung sejak 7 Feb, 2023 diawali serangan dan penculikan oleh Hamas ke wilayah Israel selatan yang dibalas dengan brutal tanpa ampun oleh pasukan negara Yahudi itu.

Jubir Dewan keamanan Nasional AS John Kirby menyebutkan, negosiasi berjalan konstruktif dan berjalan ke arah yang benar dan negaranya mengakui tidak akan mendukung operasi darat yang dilancarkan Israel di Rafah tanpa upaya yang jelas untuk melindungi warga sipil.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang sebelumnya mengambil posisi membela Hamas dan menentang aksi bombardemen Israel di Gaza juga ikut bergabung dalam pertemuan Kairo, khususnya untuk menemui mitranya, Presiden el-Sisi.

Sementara sumber yang mengetahui isi pertemuan tersebut menilai, tampak ada niat baik kedua belah pihak untuk melanjutkan proses negosiasi, namun sejauh ini belum ada kepastian hal itu bisa diwujudkan.

Sedangkan seorang pejabat Palestina mengemukakan, Mesir dan Qatar aka terus berkomunikasi dengan pihak-pihak betikai (Israel dan Hamas) secara terpisah, termasuk mendesak agar sikap Israel lebh melunak.

Di tengah kecaman interasional, Israel terus membombardir Rafah sehingga pengungsi yang berada di sana terus berpindah-pindah agar tidak menjadi korban, sementara Mesir yang diharapkan jadi pintu keluar dari Rafah, menolak setiap warga Palestina melintasi tapal batas wilayah itu.

Konflik antara Hamas dan Israel di Gaza agaknya masih perlu waktu panjang untuk didamaikan jika negara-negara yang memiliki hak veto di DK PBB (AS, Ingeris, Perancis, China dan Rusia  tidak kompak menentang a Israel di Gaza. (Reuters/AP/AFP/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here