BERITA itu kelewat ringan, tapi bisa menjadi bahan renungan. Seperti ditulis di portal berita Detikcom Jumat lalu (9/12), seorang pelajar SMP di Medan Binjai, Sumatera Utara, tega mengancam orangtua untuk tidak sekolah, bilamana tak dibelikan HP android. Meski bapak hanya buruh kasar berpenghasilannya tak menentu, demi masa depan anak, dibelikan juga HP seharga Rp 650.000,- itu. Pemilik toko HP sangat terharu, karena dibayar dengan uang receh Rp 2.000,- an semua. Kisah anak tak mamahami “amanat penderitaan orangtua” ini tak urung menjadi viral di dunia maya.
Bermacam-macamlah komentar para netizen, mayoritas menyayangkan sikap si anak modern yang tak tahu diuntung itu. Memangnya tanpa HP sekolahnya jadi terganggu? Mestinya dia bersyukur, meski ayah pekerja kasar yang mengumpulkan rupiah demi rupiah lewat tetes keringatnya, masih mampu menyekolahkan anak. Jadi apa itu anak nantinya? Jika hanya lulusan SD; ayah kuli kasar, anak juga jadi penerus sebagai kuli pula.
Pemerintahan Presiden Sukarno dulu, ada dikenal Kabinet Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Kabinet menjelang akhir kekuasaannya tersebut masih dilanjutkan oleh penerusnya, Soeharto di tahun 1967. Mengapa dinamakan Kabinet Ampera? Karena Presiden Sukarno menginginkan para menteri pembantu presiden itu lewat kebijakan-kebijakannya mampu menciptakan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia yang masih menderita.
Jaman itu inflasi membubung hingga 600 %, rakyat berebut antre beras dan minyak tanah. Bahkan di tahun 1966 itu, lenga patra (minyak tanah) sering seperti demit jin Iprit, menghilang miterius, sehingga rakyat banyak yang memasak pakai arang. Untungnya waktu itu tukang kipas-kipas tidak tidak ditangkap, karena hanya memanasi arang di anglo, bukan memanasi situasi seperti politisi sekarang ini.
Dari tahun 1966 hingga sekarang, berarti sudah setengah abad bangsa Indonesia menyandang “amanat penderitaan rakyat” tersebut. Soalnya pembangunan dari Orde Baru hingga era reformasi plus gombalisasi ini, masih menyisakan 30 % kemiskinan bagi rakyat Indonesia. Rakyat masih menderita, yang berjaya hanya politisi, birokrat dan tentu saja konglomerat.
Kisah buruh kasar di Medan Binjai yang bela-belain beli HP Rp 650.000,- itu karena dia takut si anak kehilangan masa depan. Jaman sekarang tidak sekolah tinggi-tinggi mau jadi apa? Jangankan hanya tamatan SMP, yang lulusan S-1 saja ada yang terpaksa jualan es kelapa muda. Bapak buruh kasar di Medan Binjai itu rupanya sadar betul, hanya orang berpendidikan tinggi yang mampu menjawab tantangan zamannya.
Orangtua cap apapun pastilah menginginkan anak lebih sukses dari orangtua. Jika bapak kuli, setidaknya anak jadi mandor. Yang bapak mandor, berdoa agar anak jadi pemborong. Yang bapak pemborong, berharap anak jadi pimpinan proyek (pimpro). Begitulah seterusnya, selalu ada peningkatan derajat dan semat (harta). Maka tak mengherankan, yang mantan presiden pun berharap anaknya jadi gubernur.
Orangtua pastilah selalu membanggakan anaknya yang sukses. Tapi banyak juga orangtua lebay. Demikian inginnya pamar sukses putra-putrinya, setiap ketemu orang –meski tak ditanyakan– selalu cerita anaknya yang kini sudah jadi ini dan itu. Sudah jadi komandan angkatan laut, udara, darat dan kepolisian. Tapi jika anak-anaknya cuma menjadi komandan angkat-junjung di Pasar Induk Cipinang tak mau cerita.
Anak yang mengerti “amanat penderitaan orangtua” akan menjadi manusia sukses di masa depan. Tapi harus diingat pula, orangtua sukses biasanya anak seakan-akan menjadi raja. Tapi sebaliknya, jika anak yang sukses, gantian orangtua yang seakan menjadi pembantu. Di rumah hanya disuruh momong cucu. (Cantrik Metaram).





