JAKARTA, KBKNEWS.id – Kisah Iqbal Rasyid Achmad Faqih, putra buruh harian asal Kota Bengkulu yang berhasil masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial.
Dalam video tersebut, Wakil Dekan FK UI Prof. Dwiana Ocviyanti terlihat datang langsung ke rumah sederhana keluarga Iqbal di Jalan Murai, Bengkulu.
Di balik keberhasilannya menembus salah satu fakultas kedokteran terbaik di Indonesia, sang ibu, Suhaima (41), mengenang kebiasaan Iqbal yang sudah gemar membaca sejak kecil.
Meski tumbuh dalam kondisi ekonomi terbatas, rasa ingin tahu Iqbal disebut sangat besar.
“Sedari kecil dia memang suka ilmu pengetahuan. Dia sering membaca peta dunia milik kakaknya sampai hafal nama negara, kota, bahkan luas wilayah,” ujar Suhaima, Sabtu (9/5/2026), dilansir kompas.com.
Kecerdasan Iqbal bahkan sudah terlihat sebelum masuk Taman Kanak-kanak (TK). Ia telah mampu membaca dan menghafal ayat-ayat pendek Al Quran hanya dengan mendengarkan ibunya mengajar mengaji. Saat masih berusia TK, Iqbal juga pernah menjadi juara umum lomba hafalan tingkat SD.
Kebiasaan membacanya terus berkembang. Setiap diajak ke pasar, Iqbal kecil disebut selalu membaca papan toko dan pamflet iklan yang ditemuinya. Sang ibu kemudian berusaha menyisihkan uang demi membelikan buku bacaan hingga kamus bahasa Inggris.
Menurut Suhaima, permainan seperti monopoli juga membantu mengasah kemampuan matematika putranya. Saat duduk di bangku MAN Insan Cendikia, waktu libur Iqbal banyak dihabiskan di Perpustakaan Daerah Bengkulu untuk membaca.
Perjalanan menuju FK UI pun tidak mudah. Iqbal sempat gagal saat mencoba masuk perguruan tinggi lewat jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Namun, ia tidak menyerah dan kembali mencoba lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dengan pilihan tunggal FK UI.
Keputusan itu awalnya membuat orangtuanya khawatir karena biaya kuliah kedokteran yang dikenal mahal. Namun Iqbal akhirnya mendapatkan beasiswa dan mampu mempertahankan prestasi akademiknya dengan IPK 3,91.
“Tanpa beasiswa kami tidak akan mampu. Ayahnya buruh harian, saya mengajar ngaji sukarela, rumah juga masih menumpang,” kata Suhaima.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Suhaima mengaku belum pernah menjenguk putranya ke Jakarta selama dua semester kuliah karena biaya perjalanan yang cukup besar. Meski begitu, ia tetap bersyukur melihat Iqbal bisa bertahan dan berprestasi di FK UI.
“Yang penting dia bisa terus belajar. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk Iqbal,” tuturnya.





