SURIAH – Setelah hampir enam tahun konflik di Suriah, untuk pertama kalinya penelitian kesehatan mental anak-anak di dalam wilayah Suriah oleh Save the Children mengungkapkan jika anak-anak kini hidup dalam kondisi trauma.
Ratusan anak-anak, remaja dan orang dewasa telah diwawancarai untuk laporan ‘Invisible wounds’. Kisah-kisah mereka mampu menerjemahkan luka yang menjadi gambaran nyata dari kehidupan mereka yang telah berubah untuk selama-lamanya.
Setidaknya 3 juta anak-anak Suriah di bawah usia enam tahu dan telah mengerti apa artinya perang dan jutaan lebih telah tumbuh dalam ketakutan di bawah bayang-bayang konflik.
Dilansir Euronews, Senin (7/3/2017), penelitian baru mengungkapkan jika pemboman, penembakan, termasuk suara mengancam dari pesawat tempur terus berputar di atas siang dan malam, dan menjadi penyebab utama stres psikologis dankemarahan anak-anak Suriah dalam kehidupan sehari-hari.
Setengah dari anak-anak yang diwawancarai mengatakan mereka tidak pernah atau jarang merasa aman di sekolah dan 40% mengatakan mereka tidak merasa aman untuk bermain di luar, bahkan tepat di luar rumah mereka sendiri. Sementara hampir semua orang dewasa mengatakan perilaku anak-anak telah menjadi lebih takut dan gugup setelah perang berlangsung.
Anak-anak mengalami situasi trauma yang ekstrim, seperti begitu banyak anak-anak di Suriah lakukan, dan hidup dalam keadaan yang terkoneksi dengan saraf di area otak yang mempengaruhi kemampuan anak-anak untuk melakukan pendidikan akademis mereka.
Menindaklanjuti keadaan tersebut, penelitian baru ini diharapkan menjadi awal untuk mengambil langkah-langkah untuk mengakhirinya. April bulan depan, di Brussels, kekuatan dunia akan bersidang di dimana masyarakat internasional akan bersama-sama mengubah dan memulai transisi politik, proses rekonsiliasi dan rekonstruksi Suriah.




