Perang dunia ketiga menjadi perbincangan banyak akademisi dan tokoh politik melihat fenomena agresivitas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam hubungan internasional. Ancaman perang global diyakini akan terjadi tapi tidak diketahui waktunya.
Seperti dilansir dari BBC, Rabu (28/1/2026), Trump sangat agraesif menginginkan untuk menguasai Greenland. Wilayah semiotonom yang dikuasai Denmark.
Trump bahkan mengancam memberlakukan tarif dagang ke Eropa jika rencananya tidak berjalan mulus. Sejak era Perang Dunia kedua, AS sudah berencana menajalankan program nuklir di wilayah seluas 2 kilometer persegi itu.
Namun, Denmark selalu menolak dan mendorong NATO untuk ikut campur mencegah aksi AS ini. Tak hanya itu, wilayah yang luasnya empat kali Jerman itu juga mempunyai sumber daya alam (SDA) mineral, gas, dan minya yang sangat melimpah. SDA ini menjadi salah satu alasan Trump ingin segera menguasai Denmark.
Selain Trump, perang antara Ukraina dan Rusia sejak 2022 tak kunjung berhenti. Perang yang diduga sudah menewakan ratusan ribu orang itu bisa menjadi pemantik stabilitas negara-negara lain.
Finlandia yang sebelumnya bersikap netral ikut bergabung dalam NATO. NATO merupakan Organisasi Pakta Atlantik Utara atau aliansi pertahanan militer antar pemerintah yang didirikan pada tahun 1949, beranggotakan 32 negara dari Eropa dan Amerika Utara. Bertujuan menjamin keamanan dan kebebasan anggota melalui prinsip pertahanan kolektif, NATO berbasis di Brussels, Belgia.
Finlandia yang tidak berjarak jauh dari Ukraina dan Rusia khawatir jika perang terus berkepanjangan akan berdampak pada negaranya.
Tak hanya Rusia, stabilitas negara di Iran juga gonjang-ganjing. Protes warga negara terkait politik dalam negeri Iran terus meningkat. Masyarakat Iran kini terbelah dan terpolarisasi dengan kepemimpianan Ayatollah Khamenei yang dinilai tidak bisa memberi kestabilan di masyarakat.
Melansir dari Aljazeera, protes di Iran terjadi sejak awal Desember 2025 karena inflasi tinggi. Harga bahan pokok tidak terjangkau dan masyarakat kelas menengah ke bawah terus tertekan. Anak muda juga merasa tidak diperhatikan karena tidak ada lapangan kerja. Apalagi perempuan, yang terus ditekan dengan tidak adanya kebebasan berekspresi.
Belajar dari Masa Lalu
Beberapa ahli menyebut pemicu Perang Dunia Kedua salah satunya adalah peralihan pekerjaan dari manusia ke mesin. Revolusi Industri pada masa itu berhasil menciptakan efektivitas pekerjaan sehingga banyak orang tak hilang pekerjaan.
Mirip dengan saat ini, dengan datangnya kecerdasa buatan (AI) yang membuat banyak pekerjaan hilang sehingga masyarakat resah. Pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin masif. Apalagi, pandemi Covid-19 yang membuat kondisi ekonomi belum kembali pulih sepenuhnya.
Pada masa Perang Dunia Kedua, muncul radio yang menjadi media propaganda masyarakat. Kini, muncul media sosial yang menjadi propaganda bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Alasan Perang Bisa Terjadi
Secara ekonomi, tidak ada negara manapun yang ingin perang. Sumber daya pasti akan terdampak jika suatu negara terlibat perang. Namun, perang tidak diputuskan pertimbangan ekonomi tapi keputusan politik pemimpinnya.
Fenomena Trump yang menunjukkan AS berada di atas hukum internasional dengan “menculik” Presiden Venezuela Nicolas Maduro bisa menjadi preseden buruk bagi negara-negara lain. Terutama pesaing utama AS yakni China yang terus memperkuat militernya dan menegaskan posisinya di Asia Pasifik.
China kini juga bersiaga penuh usai pernyataan Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi pada November 2025. Takaichi menyinggung potensi intervensi militer jika China menyerang Taiwan. Takaichi menegaskan bahwa invasi China ke Taiwan dapat mengancam kelangsungan hidup Jepang, sehingga Jepang melakukan intervensi militer.
Asia Tenggara juga bergejolak dengan perang antara Thailand dan Kamboja. Sengketa perbatasan antara kedua negara ini terus berulang mengakibatkan kekhawatiran di dalam regional Asia Tenggara. Ditambah lagi situasi yang tidak kondusif di Myanmar karena pemberontakan kepada junta militer juga harus diwaspadai.
Banyak negara kini mencari kedaulatan secara maksimal dengan melakukan pengancaman kepada negara lain. Perang bisa saja terjadi jika banyak negara tidak menahan diri. Indonesia harus bisa memperkuat kekuatan militer dalam negeri dan mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah agar negara ini terus bertahan di tengah gempuran ancaman global.




