
ANGELA Merkel (64) seperti diprakirakan semula, untuk keempat kalinya meraih kembali kursi kanselir Jerman dalam Pemilu yang digelar Senin (25/9) di tengah upaya penguatan Uni Eropa pasca Brexit dan pasang-surut hubungan dengan Rusia.
Namun partai Merkel, Uni Kristen Demokrat (CDU) hanya mampu mengumpulkan 33 persen suara atau anjlok 8,5 persen ketimbang raihan pada Pemilu lalu (2013) sebesar 41,5 persen suara sehingga harus memilih mitra koalisi.
Yang mengejutkan dalam Pemilu kali ini adalah perolehan partai ekstrim kanan Jerman, Afl yang mampu menempati tiga besar dengan meraih 12,6 persen suara.
Opsi paling memungkinkan, CDU membentuk grand coalition atau koalisi besar bersama partai rival bebuyutannya yakni Partai Sosial Demokrat (SPD) seperti yang dilakukan pada pemerintahan petahana (2013 – 2017).
Namun pimpinan SPD Martin Schultz dalam pemerintahan mendatang, memilih menjadi oposisi dengan tujuan untuk menjaga Jerman dari upaya pihak tertentu yang berniat menyerang nilai-nilai demokrasi.
Dengan menempatkan SPD sebagai oposisi dan tidak lagi menjadi bagian dari pemerintah, menurut Schultz, SPD berharap akan memulihkan kembali dukungan publik yang hilang selama ini.
Lagipula, jika koalisi antara CDU dan SPD berlanjut, ada ganjalan cukup mendasar atas sikap SPD menentang peningkatan anggaran militer dan menuntut perhatian lebih besar di sektor pendidikan dan upaya menekan kesenjangan sosial.
Opsi lain, CDU membentuk koalisi dengan Partai Bebas Demokrat (FDP) dan Partai Hijau (di Gruene), namun FDP akan memanfaatkan bargaining position-nya setinggi mungkin terkait kebijakan energi dan fiskal zona Euro.
Partai Hijau juga menyatakan hanya bersedia bergabung ke dalam koalisi jika pemerintah memprioritaskan masalah perubahan iklim.
Merkel sendiri dinilai pendukungnya sebagai perempuan tangguh yang membawa Jerman dan juga Uni Eropa (UE) keluar dari gunjang-ganjing politik dan ekonomi di kawasan itu dan berperan mencari solusi persoalan global.
Dengan berani Merkel memimpin UE mengenakan sanksi terhadap Rusia atas aksinya mencaplok wilayah Krimea dan campurtangan di Ukraina, padahal negara beruang merah itu adalah mitra dagang utama UE.
Keputusan Jerman untuk menerima hampir sejuta pengungsi berasal dari wilayah konflik di Suriah diapresiasi oleh PBB walau mendapat tantangan keras dari dalam negeri dan negara-negara UE.
Merkel juga dianggap sebagai tokoh yang berkontribusi besar dalam membuat UE tetap bertahan dari perpecahan pasca keluarnya Inggeris (Brexit) dari perhimpunan bangsa-bangsa di kawasan Eropa itu.
Munculnya tokoh kontroversial dan populis Donald Trump sebagai presiden AS yang meragukan keberadaan Pakta Pertahananan Atlantik Utara (NATO), UE dan PBB malah mendorong kehadiran sosok seperti Merkel yang “cool” dan stabil sebagai penyeimbang.
Pilihan bagi Merkel, membentuk pemerintah minoritas, walau ini belum pernah dilakukan di Jerman dan Merkel sendiri meyakinkan pendukungnya untuk tidak mengambil opsi ini.
Sebaliknya jika memutuskan berkoalisi dengan SPD, ia berhadapan dengan risiko menghadapi kesulitan untuk menjalankan mandatnya.
Kiprah Merkel akan dilihat lagi pada periode kepemimpinannya empat tahun mendatang, namun demikian, ia telah terbukti mengukir prestasi, menyamai Helmut Kohl yang juga pernah empat kali menjabat kanselir Jerman. (AP/AFP/Reutters/NS)




