BALI – Kehidupan pengungsi Gunung Agung di tempat pengungsian semakin diperparah dengan cuaca, karena kerap diguyur hujan saat malam hari.
Saat terjadi hujan, para pengungsi khususnya di tenda-tenda seperti di Lapangan Ulakan, Kecamatan Manggis, terpaksa harus mengungsi lagi ke tempat-tempat yang lebih teduh, seperti balai banjar dan rumah-rumah warga.
“Hujan lebat memang sering turun disini. Pengungsi di tenda sering mengaku tak nyaman, sehingga memilih pindah sendiri ke lokasi aman di bale banjar maupun rumah-rumah warga,” kata Komang Suparta, dari Komando Relawan Rakyat Gunung Agung (Korrga) saat ditemui di Lapangan Ulakan, Selasa (26/9/2017), dilansir Balipost.
Salah satu pengungsi, Ni Komang Juni Arniti, mengaku sudah berada di tempat pengungsian ini selama tiga hari. Dia tinggal di tempat pengungsian tenda bersama lima orang keluarganya.
Siswa SMPN 2 Amlapura ini, mengaku harus mengungsi karena khawatir terjadi letusan Gunung Agung. Dia mengakui kalau terjadi hujan, tenda-tenda memang bocor. Sehingga, warga harus pindah lagi ke tempat lain, sepertu bale banjar dan bale bengong serta rumah-rumah warga. “Saya sementara sekolah di sini, di SMPN 1 Manggis sejak kemarin, agar tetap bisa belajar,” kata siswa kelas VIII asal Desa Pesagi ini.
Pengungsi lainya, Mangku Sumerti dari Tihingan Kangin, Bebandem, mengaku sudah empat hari berada di pengungsian. Selama ini pelayanan yang diberikan cukup bagus, baik masalah makan maupun MCK.
Dia juga mengaku khawatir, kalau terjadi hujan lebat, karena harus mengungsi ke tempat lain lagi. Sebab, di dalam tenda hanya ada alas tidur yang menyatu dengan tanah. Sehingga, kalau terjadi hujan pasti sangat repot.
Pemangku Pura Paibon Penataran Pande ini, mengatakan dia mengungsi bersama 64 anggota keluarganya sejak awal di tempat ini, karena tempat ini di nilai paling aman. Dia berharap situasi ini cepat berlalu, agar bisa cepat pulang.





