Anggota TNI Berjari 4

Lewat permainan cahaya lampu, jari jemari kita juga bisa membentuk gambar berbagai hewan.

BAMBANG Trihatmodjo, kita semua tahu, dialah pengusaha dari Keluarga Cendana yang suami Mayangsari. Kalau Bambang Tri Mulyono, beberapa tahun lalu sempat mencuat namanya, tapi masih juga kalah ngetop dengan Bambang Gentolet Srimulat dan Bambang Pacul PDIP. Setelah masuk penjara 2,5 tahun lamanya, gara-gara buku “Jokowi Undercover” tulisannya, eh kini ngoceh lagi. Lewat chanel Youtube dia bilang bahwa ijazah Jokowi SMA dan UGM palsu. Bahkan katanya pula, sejumlah family Jokowi yang berjari 4 bisa masuk TNI.

Nah, ini yang menarik.  Soal Jokowi berjazah palsu sudah terbantahkan, karena sudah ada penjelasan dari pihak almamater terkait. Tapi soal anggota TNI berjari 4, itu yang perlu diluruskan, sehingga tak perlu kambinghitamkan rekrutmen di TNI. Jika kita berpikir secara kritis, manusia berjari 4  kan hal biasa, kenapa dibikin ribut? Kita semua makhluk manusia pada umumnya, termasuk Bambang Tri Mulyono tentu saja, semua juga berjari 4. Jari satunya lagi kan disebut ibu jari atau jempol dalam bahasa Jawa.

Rupanya Bambang Tri Mulyono hendak melawak seperti Basiyo di tahun 1970-an dulu. Dulu tokoh Dagelan Mataram dari Yogyakarta itu lewat RRI Yogyakarta dia bilang, “Wih……, anake Paimo kae jebul drijine ming papat ki (anak Paimo ternyata hanya berjari empat tuh).” Ketika lawan mainnya kaget, Basiyo segera menjelaskan, “Sing siji  jenenge rak jempol ta (yang satu lagi namanya kan ibujari).” Para pendengar RRI Yogya tertawa oleh lawakan Basiyo tersebut.

Allah SWT memang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Coba jika manusia tak punya jempol, orang yang buta hurup bagaimana caranya menyelesaikan persoalan hukumnya? Apakah kesaksian dan persetujuannya itu diwakilkan pakai cap lidah atau cap bibir? Dengan cap jempol semua urusan bisa selesai karena diakui oleh Negara.

Dalam khasanah budaya Jawa, jari-jemari kita juga bisa menjadi media pencerahan tentang perlunya menghormati orangtua. Dalam tembang Jawa versi Pucung dan Asmarandana dinarasikan yang intinya demikian: Entik-entik, sipenunggul patenana, gek dosane apa, dosane ngungkul-ungkuli, dhi aja dhi, sedulur tuwa malati. Ketika Pak Guru mengajarkan pada murid-muridnya di SR atau SD, biasanya diperagakan dengan gerakan tangan pak guru. Ketika tiba pada kalimat sedulur tuwa malati, pak Guru lalu berkata, “bener-bener tai laler enak seger (baca: betul sekali) sambil menggerakkan ibu jari di tangan kanannya.

Lewat permainan cahaya lampu, 10 jari kita juga bisa membentuk siluet berbagai hewan, misalnnya kepala anjing, kepala jago, burung terbang, buaya, bahkan kepala orang Indian. Dalam buku pelajaran membaca untuk SR tahun 1960, buku Nyamikan karya Samud Sastrawardoyo juga memuat tentang hal ini. Bagi bocah jaman itu yang belum kenal HP android, sungguh sangat mengasyikkan.

Dalam bahasa medsos, emotikon juga memanfaatkan jari jemari kita sebagai simbul sikap netizen. Misalkan menyatakan sikap kagum, cukup dengan emotikon ibu jari ke atas, kalau  tak setuju cukup ibu jari yang posisi ke bawah. Cuma bagi orang Indonesia, terutama suku Jawa, emotikon jempol itu kenapa posisi tangan kiri, padahal bagi kultur kita, menerima sesuatu dengan tangan kiri tidaklah sopan.

Begitulah jari jemari kita, telah berhasil mengubah dunia. Sebab cipta rasa karya manusia tak bisa lepas dari tindakan jari jemari kita juga. Maka jika Bambang Tri Mulyono mempermasalahkan sejumlah kerabat Jokowi jadi anggota TNI semua berjari empat, jelas dia sedang menyaingi pelawak Basiyo almarhum. Cuma lawakannya jadi tidak lucu, karena soal begitu saja kenapa dikaitkan dengan Presiden.

Dan ternyata, Bambang Tri yang kembali bikin heboh itu adalah juga Bambang Tri Mulyono yang yang dulu pernah menjadi wartawan Suara Merdeka di Semarang. Kebetulan penulis punya sahabat yang pernah menjadi Wapemred koran terbesar di Jateng itu. Saking penasarannya lalu kutanyakan kepadanya, sambil ngomel-ngomeli Bambang Tri tersebut. Sahabat saya itu sambil tertawa hanya balik bertanya, “Njenengan tahu Bambang Tri dari mana?” Ya tentu penulis sebutkan dari media online dan surat kabar yang muat berita tentang penangkapan Bambang Tri Mulyono yang kemudian diadili di PN Blora.

Beliaunya tak menjawab. Ketika vonis untuk Bambang Tri telah jatuh dan diberitakan berbagai media, di situ juga diberitakan bahwa sahabat penulis  yang pernah Nyagub Jateng itu ternyata kakak kandung dari Bambang Tri Mulyono tersebut. Sialan, batin penulis dan malu hati pada sahabatku itu. Tapi rupanya dia juga tidak tersinggung, terbukti ketika penulis mantu di Gedung Kementan Pasar Minggu beberapa tahun lalu, dia juga kirim bunga ucapan selamat. (Cantrik Metaram)