SINGAPURA – Tahun lalu, 2018 ada 397 kasus bunuh diri yang dilaporkan di Singapura. Sedangkan tahun 2017 ditemui sebanyak 361 kasus. Angka ini membuat angka bunuh diri menjadi 8,36 kematian per 100.000 penduduk Singapura, naik dari 7,74 pada 2017.
“Jumlah kasus bunuh diri di Singapura naik sebesar 10 persen tahun lalu. Bunuh diri paling banyak dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia 10-19 tahun,” ujar petugas Samaritans of Singapore (SOS), Senin (29/7/2019).
Kasus bunuh diri terjadi pada semua kelompok umur, kecuali mereka yang berusia 60 tahun ke atas, ujar seorang konselor pencegahan bunuh diri.
Menurut SOS, kasus bunuh diri di kalangan pemuda dan laki-laki adalah “masalah sosial yang signifikan”. Setiap 10 kasus bunuh diri pada 2018, tujuh di antaranya dilakukan oleh laki-laki.
Sebanyak 94 orang berusia antara 10 – 29 tahun bunuh diri tahun lalu, kata SOS. Sedangkan di antara anak laki-laki berusia antara 10 dan 19 tahun, ada 19 kasus bunuh.
Seperti dilansir Anadolu Agency, angka ini merupakan angka tertinggi sejak ada pencatatan kasus bunuh diri pada 1991 dan hampir tiga kali lipat dari tujuh kasus yang tercatat pada 2017.
Menurut wakil direktur senior SOS, Wong Lai Chun, fenomena ini sangat membingungkan. Anak muda merasa tidak mendapat dukungan pada saat terberat dalam hidup mereka dan memandang bunuh diri sebagai satu-satunya cara untuk mengakhiri rasa sakit dan pergumulan mereka.





