Angpau Hari Lebaran

Para bocil dari yang masih balita sampai berusia njaluk rabi ikut antri uang dari tangan Mbah Uti Rochdati Suwadi. Rp 800.000,-an ludes dalam tempo 30 menit.

LEBARAN 1444 H tanpa terasa sudah seminggu lebih berlalu. Bagi para bocil yang sudah ngerti duit, dia berharap Lebaran 1445 H segera tiba lagi. Sebab di situ dia punya peluang dapat uang angpau Lebaran banyak lagi. Dari safari dari rumah tetangga ke tetangga yang lain, sampai diajak orangtua ke para famili di berbagai tempat yang jauh. Maka bagi kalangan anak-anak, 365 hari selama setahun itu kalau bisa isinya hari Lebaran semua!

Bagi kalangan pejabat biasanya menggelar Open House. Hanya selama tahun-tahun Covid-19, Open House dilarang pemerintah sehingga Lebaran tanpa banyak mengumpulkan tamu secara bersamaan. Tapi perkumpulan trah, yang tanpa mengatasnamakan pejabat, meski banyak pula kelompok trah yang anak keturunannya jadi pejabat, belakangan mulai ramai menggelar halal bihalal.

Halal bihalal itu tak hanya saling bermaaf-maafan, tapi intinya silaturahmi. Sebab silaturahmi itu bisa memperluas peluang rejeki dan memperpanjang umur. Dengan saling bertemu tersebut, bisa saling tukar informasi dan saling bantu peluang mencari rejeki. Lalu bagaimana nalarnya, kok silaturahmi bisa memperpanjang umur? Bukankah umur manusia itu sejak lahir kuotanya sudah ditentukan, tak bisa dibeli apa lagi sistem paketan?

Dengan logikanya sendiri seorang pelawak kola (berkata), “Orang yang hobi silaturahmi jadi panjang umur, sebab ketika malaikat Izroil ke rumah untuk mencabut nyawanya yang sudah jatuh tempo, orangnya sedang pergi silaturahmi. Lain kali didatangi lagi, eh …..masih pergi silaturahmi lagi. Walhasil sampai lama nggak mati-mati.”

Tapi bagi kalangan bocil (bocah cilik), tak ada urusan dengan dampak panjang umur seseorang. Baginya bahwa silaturahmi memperluas peluang rejeki, memang iya! Sebab ketika diajak orangtuanya ikut halal bihalal trah, ada juga keluarga dekat yang kasih angpau. Nah kantong si bocil pun semakin menggelembung.

Pada halal-bihalal “Trah 7 Mar” di Cempaka Baru Jakarta Pusat Sabtu lalu (29/04) para bocil juga menemukan kebahagiaan tersendiri, karena panitia juga bagi-bagi uang untuk mereka. Cuma duit tersebut tidak dimasukkan ke dalam angpau (amplop), tetapi dibagikan secara telanjang berupa uang kertas nominal Rp. 2.000,- Rp 5.000.- Rp 10.000,- sampai paling besar Rp 20.000,-

Meski uang sangu itu khusus untuk bocil, tapi batasan bocil menjadi demikian fleksibel. Walaupun usia sudah 17 tahun asal dia cucu atau buyut dari “Keluarga 7 Mar”, boleh ikut ngantri. Maka suasananya menjadi riuh sekali. Dari balita yang masih digendong ayah atau ibunya sampai remaja yang sudah njaluk rabi (minta kawin) ikut ngantri pula. Mereka bergantian menerima bagian sangu dari tangan Mbah Uti Rochdati Suwadi.

Yang menarik si bocil menerima sangu itu tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Sebab antrian mereka secara berputar. Jika putaran pertama hanya terima Rp 2.000,- atau Rp 10.000,- maka pada putaran ke 4 atau ke lima bisa saja menerima yang nominal Rp 20.000,- Maka dalam waktu sekitar 30 menit, pada10 kali putaran uang Rp 800.000.-an di tangan Mbah Uti itu sudah ludes. Dari 23 anak yang ikut mutar tersebut, ada yang terima Rp 62.000,- tapi ada pula yang hanya menerima Rp 26.000,- Kata panitia “Trah 7 Mar”, terima sedikit atau banyak itu semua tergantung pada amal ibadah masing-masing………….

“Trah 7 Mar” yang menghadiri halal bihalal tersebut memang hanya sebagian kecil yang tinggal di Jakarta, tapi tak kurang dari 150 orang yang hadir. Sebab cucu dan buyut Mbah Wiryodikoro ini sekarang tak kurang dari 800 KK, tersabar di seluruh wilayah Indonesia. Bila mereka semua bisa dikumpulkan serentak, gedung Graha Saba Buana milik Presiden Jokowi di Solo pun takkan nampung.

Bagi-bagi uang buat para bocil, mengingatkan pada Lebaran di kampung. Bapak-simbok di tahun 2000-an juga masih diantri banyak anak-anak. Mereka tahu Lebaran di tempat Mbah Tjokro pasti dapat sangu. Ketika simbok sudah muncul dengan kantong uangnya, bocah pun segera ngantri. Tapi simbok titen (hafal) mana yang belum dibagi, dan mana yang sudah. Sebab ada juga bocil yang sudah dibagi, kembali ikut ngantri. “Ee, iku mau esuk uwis diwenehi, kok ngantri maneh. Pintere kok dipek dhewe (tadi pagi kan sudah diberi, kok ngantri lagi. Pintar sekali kamu).” Kata Simbok si bocah keluar antrian dengan malu-malu.

Pada Lebaran di tahun-tahun 1960-an, penulis juga seperti mereka bersama teman-teman ikut bersafari mencari sangu dari keluarga sekampung. Sore harinya dihitung. Kebanyakan tak memenuhi target, beda dengan temanku si Tunggono atau Bayek, setiap Lebaran dia terima banyak sangu. Kata bapak, para pemberi sangu selalu melihat, si bocil itu anak siapa. Jika orangtuanya terhitung mapan meski hanya ukuran kampung, niscaya hanya diberi sangu sedikit. Oo, begitu! (Cantrik Metaram)

Advertisement