PENGHITUNGAN suara belum usai seluruhnya, namun calon Partai Buruh Anthony Albanese dipastikan menjadi perdana menteri Australia untuk periode 2022 – 2028 setelah PM petahana Scott Morrison mengakui kekalahannya.
Perkiraan penghitungan suara oleh ABC dan BBC, sampai Sabtu menjelang tengah malam waktu Canberra (21/5), Partai Liberal pimpinan Morrison paling banyak baru mengumpulkan 52 kursi, padahal paling tidak diperlukan 76 dari total 151 kursi di parlemen yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Morrison sendiri menyebutkan, pengakuan kemenangan terhadap lawannya lebih cepat walau masih ada beberapa juta suara lagi yang belum dihitung, perlu demi terciptanya kepastian bagi negara.
Sebaliknya, Partai Buruh pimpinan Albanese diperkirakan paling tidak sudah berhasil mendapat 70 sampai 72 kursi, sementara kekuranganya bisa ditutup dengan menggandeng sebagian dari enam politisi independen yang memenangi pemilih di beberapa dapil.
Albanese yang keturunan Irlandia berdasarkan hasil jajak pendapat harian The Sydney Morning Herald, pekan lalu memang sudah diprediksi bakal memperoleh 51 persen suara dibandingkan Morrison dengan 49 persen.
Morrison sendiri sebagai calon dari partai berhaluan kanan berusaha terpilih untuk masa jabatan kedua dan jika ia berhasil memenangi pemilu berarti untuk keempat kalinya Partai Liberal berkuasa.
Penanganan lanjutan pandemi Covid-19 setelah Aussie kembali diserang varian virus Omicron, awal tahun 2022 dan tekanan ekonomi akibat dampak perang Rusia dan Ukraina serta bencana alam banjir dan kekeringan menjadi bulan-bulanan kritik oleh lawan Marrison.
Isu-isu tersebut dijadikan amunisi bagi kelompok oposisi, lawan Morrison yang memelesetkan kependekan “Scomo” (Scott Morrison) menjadi “Slomo” (Slow Motion) atau lelet.
Partai Buruh juga mengritisi kebijakan politik luar negeri pemerintahan Morrison, khususnya terkait kerjasama pertahanan yang ditandatangani antara China dan Kepulauan Solomon baru-baru ini.
Tentu saja kehadiran China yang dinilai ambisius di Laut China Selatan sehingga direspons dengan pembentukan aliansi keamanan trilateral antara AS, Inggeris dan Australia (AUKUS) Sept. lalu menunjukkan kecemasan mereka terhadap sepak terjang China.
Sebaliknya, kerjasama pertahanan di Pasifik Selatan yang dibentuk antara China dan Kepulauan Solomon beberapa waktu lalu juga dianggap ancaman bagi Australia.
Ini dianggap pula sebagai kegagalan pemerintah Morrison berdiplomasi, membiarkan negara tetangganya sekawasan “jatuh dalam pelukan China”.
Selebihnya, kepemimpinan Albanese enam tahun mendatang diperkirakan tidak banyak berubah termasuk sikap yang tegas terhadap pengungsi dari laut.
Bagi RI, Australia sebagai negeri yang wilayah geografisnya berada di “halaman belakang” juga tidak ada permasalahan, keduanya saling membutuhkan dan berhubungan baik (AP/AFAP/Reuters/ns).




