JAKARTA, KBKNEWS.id – Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menyatakan telah berhasil mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik pada Senin (12/10/2026) malam waktu setempat. Proyektil yang diluncurkan oleh kelompok Houthi tersebut diarahkan ke wilayah Khamis Mushait di barat daya Arab Saudi.
Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, mengonfirmasi pencegatan tersebut melalui akun resminya di platform media sosial X, Senin (12/10/2026). Kendati demikian, pihak koalisi tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai dampak serangan, termasuk kemungkinan adanya korban jiwa maupun kerusakan fasilitas akibat insiden itu.
Sebelum penghancuran rudal diumumkan, Pertahanan Sipil Arab Saudi sempat merilis peringatan bahaya darurat di Khamis Mushait melalui Sistem Peringatan Dini Nasional di platform X. Sekitar sepuluh menit berselang, lembaga tersebut menyatakan situasi telah kembali aman, sembari mengimbau masyarakat untuk tetap mematuhi instruksi keselamatan serta tidak berkerumun atau merekam kejadian di lokasi.
Aksi saling serang antara kedua pihak belakangan ini kembali memanas, ditandai dengan serangkaian ancaman terhadap bandara dan fasilitas sipil di Arab Saudi. Peningkatan tensi militer ini mulai terjadi sejak Juli, mengakhiri periode yang relatif kondusif setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa diberlakukan pada April 2022.
Konflik bersenjata di Yaman sendiri telah berlangsung panjang sejak kelompok pemberontak Syiah Houthi merebut ibu kota Sanaa beserta sejumlah provinsi lainnya pada September 2014. Perseteruan tersebut semakin meluas setelah koalisi pimpinan Arab Saudi memutuskan untuk melakukan intervensi militer pada Maret 2015 demi membela pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Aksi Bersenjata Houthi Sejak 2023
Aksi militer kelompok milisi Houthi di Yaman mengalami eskalasi besar sejak akhir 2023 akibat meletusnya perang Israel-Hamas. Konflik yang awalnya bersifat domestik ini dengan cepat meluas menjadi ancaman regional dan keamanan maritim internasional, bahkan turut menyeret negara tetangga seperti Arab Saudi serta kekuatan global ke dalam pusaran konfrontasi terbuka.
Houthi sempat menembakkan rudal jelajah dan drone jarak jauh ke arah Israel. Ketegangan kian memuncak pada November 2023 lewat pembajakan kapal kargo Galaxy Leader, yang kemudian disusul ratusan serangan rudal anti-kapal, drone, dan perahu cepat terhadap armada komersial yang dituding terafiliasi dengan Israel, Amerika Serikat, maupun Inggris.
Blokade dan serangan maritim tersebut melumpuhkan jalur pelayaran strategis di Selat Bab-el-Mandeb dan Laut Merah hingga tahun 2025. Akibatnya, arus peti kemas dunia anjlok drastis dan perusahaan-perusahaan pelayaran terpaksa mengalihkan rute melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang memicu lonjakan biaya logistik serta mengganggu stabilitas perdagangan global.
Guna meredam ancaman tersebut, koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat membentuk Operation Prosperity Guardian dan Uni Eropa meluncurkan Operation Aspides, disertai serangan udara berkala ke fasilitas militer Houthi di Yaman sejak Januari 2024. Ketegangan maritim ini akhirnya sempat mereda menjelang akhir 2025 seiring tercapainya kesepakatan gencatan senjata serta bergulirnya rencana perdamaian di Gaza.





