
DEWAN Keamanan Nasional (NSC) Amerika Serikat dikabarkan meminta bantuan militer untuk menyusun rencana serangan terhadap Iran sebagai balasan serangan mortir atas komplek hunian diplomatiknya di Baghdad September 2017.
NSC yang merupakan salah satu bagian institusi di Gedung Putih adalah forum utama yang digunakan oleh presiden AS untuk dimintai pertimbangan khususnya terkait keamanan nasional, militer dan kebijakan luar negeri.
Permintaan NSC, seperti dikutip harian The Wall Street Journal (13/1), dilakukan untuk menindaklanjuti serangan tersebut yang dituding AS dilakukan oleh anasir-anasir milisi dukungan Iran di Irak.
Tidak ada korban serangan itu karena peluru mortir jatuh di ruang kosong, namun pihak AS menyatakan, bentuk serangan apapun terhadap warga dan fasilitas milik AS akan direspons dengan cepat dan menentukan.
Menurut Wakil Kepala Penasehat Keamanan AS Mira Ricardel, serangan itu merupakan pernyataan perang sehingga pihaknya meminta pertanggungan jawab yang dsaimpaikan secara meyakinkan.
Sebaliknya, Jubir Dephan AS Kolonel Rob Manning mengemukakan, Pentagon memang merencanakan dan menyediakan pengorganisasian opsi-opsi militer pada presiden terkait beragam ancaman, namun ia menampik apakah rencana itu juga disampaikan ke Gedung Putih.
Sebagai catatan, NSC saat ini dipimpin oleh John Bolton, sosok yang dikenal sangat anti Iran, tercermin dari tulisannya pada 2015 yang menyebutkan: “Untuk menghentikan aksi pemboman Iran, balik bom saja lagi”.
Namun tentu banyak pertimbangan lain, karena biasanya serangan ke negara lain dilakukan sebagai opsi terakhir jika berbagai alternatif solusi persoalan menemui jalan buntu.
Namun demikian, perimbangan militer kedua negara yang berseteru perlu dijadikan bahan catatan sebelum opsi militer menjadi pilihan.
Perimbangan Militer
Situs globalfirepower mencatat, Iran pada posisi ke-21 kekuatan militer dunia didukung 534.000 personil tetap dan 400.000 cadangan, sedang AD-nya memiliki sekitar 1.600 tank ex-Uni Soviet seperti T-72, T-62 dan T-54/55 yang relatif lawas atau dimodifikasi di dalam negeri.
Matra laut negara di Teluk Persia itu cukup tangguh, diperkuat 33 kapal selam, beberapa unit kelas Kilo buatan Rusia dan sebagian lagi pengembangan lokal, ditambah tiga korvet, 230 kapal patroli dan 10 penyapu ranjau.
Sedangkan di matra udara, Iran mengoperasikan 137 pesawat tempur termasuk Mig-29 ex-Rusia, F-1 Mirage ex-Perancis dan pesawat F-14 Tomcat buatan AS peninggalan era rezim Shah Iran Riza Pahlavi pada dekade ‘70-an yang berhubungan baik dengan AS.
Di tengah isolasi pihak Barat didukung AS pasca tergulingnya Shah Pahlavi oleh Ayatollah Khomeini pada 1979, Iran masih mampu mengembangkan rudal-rudal balistik yang berjangkauan 300 sampai 2.500 Km, sementara sistem pertahanan udaranya dilengkapi rudal-rudal S-300 buatan Rusia.
Dibandingkan AS sebagai kekuatan militer terbesar dunia, dengan anggaran militer sekitar 682 milyar dollar AS (sekitar Rp7.600 triliun), didukung lebih 1,35 juta tentara tetap, tentu saja kekuatan Iran tidak sebanding.
Mesin perang AS a.l. 8.725 tank dan rudal-rudal serta artileri, 3.300 pesawat udara berbagai jenis termasuk pengebom, penyergap dan lainnya, belum termasuk 6.400 helikopter, sedangkan AL-nya didukung 11 kapal induk, puluhan kapal perang dan kapal selam.
Namun lomba alutsista tentu saja bukan satu-satunya indikator keperkasaan di mandala tempur, karena banyak variabel lain seperti taktik dan strategi, juga keterlibatan pihak-pihak lain, misalnya apakah Rusia akan berpangku tangan jika Iran diserang AS?
Yang jelas, jika Iran diserang AS, Israel sebagai musuh bebuyutan Arab paling diuntungkan, mengingat Iran tinggal satu-satunya seteru yang kekuatannya bisa disandingkan dengan negara Yahudi itu setelah kekuatan Arab lainnya, Suriah tercabik-cabik akibat perang saudara dan Mesir sudah berdamai.
Begitu pula Arab Saudi yang erat dengan AS terutama terkait pengelolaan migas dan hubungan ekonomi dan juga yang menjalin hubungan diam-diam dengan Israel dan bersteru dengan Iran dalam perebutan hegemoni di kawasan Timur Tengah.
Iran dan Saudi saling berseberangan, misalnya dalam konflik Yaman, Iran mendukung milisi Houthi, sedangkan Saudi berkoalisi dengan Uni Arab Emirat di belakang pasukan loyalis mantan Presiden Abdurrabuh Mansour Hadi, begitu juga Qatar yang dikucilkan Saudi bersama sejumlah negara Arab lainnya, didukung Iran.
Rencana serangan AS ke Iran agaknya sekedar gertakan, tidak mendesak dilakukan. (AP/Reuters/ns)




