Sejumlah Gereja di Eropa Dijual, Jadi Masjid

Masjid the Brick Lane Jamme di London timur. Semula gereja, lalu sinagoge Yahudi, dan terakhir dibeli oleh keturunan Bangladesh, dibuat masjid. (Alamy stock photo)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 29/7 – SEJUMLAH gereja yang menjadi rumah ibadat bagi kaum Nasrani di sejumlah negara Eropa dijual, lalu beralihfungsi menjadi masjid setelah dibeli umat Islam di sana.

CNNI melaporkan (29/7), Gereja Methodist yang dibangun di London, Inggris pada 1743 harus mengakhiri fungsinya sebagai rumah ibadah umat Kristen, setelah dibeli oleh umat Islam asal Bangladesh dan India yang jumlahnya terus bertambah.

Peralihan fungsi itu terjadi 50 tahun silam dan menjadi Masjid Brick Lamme, dan semenjak itu, peralihan gereja menjadi masjid lewat proses jual beli terus terjadi di sejumlah negara Eropa.

Hal yang sama juga terjadi pada Gereja Bukit Sion di Kota Clitheroe, Lancashire, Inggris yang telah menjadi masjid sejak 2006. Sebelum berubah jadi masjid sempat digunakan untuk toko, lalu pabrik garmen.

Hal sama terjadi di Belanda. Masjid Al Hikmah yang banyak dikunjungi muslim asal Indonesia mulanya adalah gereja Immanuel. Sejak 1 Juli 1996 gedung itu diserahterimakan ke jemaah Indonesia setelah pengusaha Probosutedjo membelinya seharga 1 juta gulden pada tahun 1990-an.

Jerman tidak terkecuali, Gereja Lutheran Capernaum di Hamburg, akhirnya dibeli dan diubah menjadi Masjid Al-Nour pada tahun 2018.
Jemaat gereja terus menurun

Penjualan gereja-gereja itu rata-rata terjadi karena jemaat terus menurun sementara imigran Muslim terus bertambah di sejumlah negara Eropa. Di sisi lain biaya perawatan gereja makin mahal.

Kabar tersebut bukan lagi hal yang mengagetkan sebab sudah sering diberitakan media-media Eropa. Media Deutsche Welle pada 2023 misalnya mengulas hal ini.

Jumlah jemaat yang meninggalkan gereja katolik di Jerman bahkan melonjak hingga 522.821 orang pada 2022. Angka ini meningkat dari semula 359.338 jemaat pada 2021.

Fenomena di Jerman ini ditengarai terjadi akibat sejumlah skandal yang menimpa gereja, salah satunya pelecehan seksual pastur terhadap jemaat.

Selain skandal, masalah “pajak gereja” jemaat juga diduga menjadi penyebab gereja di Jerman banyak ditinggalkan. Pasalnya, biaya yang dipungut dari jemaat cukup tinggi, yakni 8-9 persen dari penghasilan mereka.

Kegagalan pribadi
Sementara itu, menurut Uskup Agung Canterbury Inggris, Justin Welby, penurunan jemaat di gereja-gereja Inggris semata-mata karena “kegagalan pribadi”.

Dia berujar,  sebagai Uskup Agung, dirinya tak yakin hal apa lagi yang bisa dilakukan untuk menggaet jemaat, sebab pada akhirnya, semua “bergantung pada Tuhan dan pemeliharaan Tuhan.”

“Pada akhirnya, gereja tidak berada di tangan individu Uskup Agung yang independen. Masa depan gereja, kelangsungan hidupnya atau sebaliknya, tidak bergantung pada Uskup Agung, melainkan pada Tuhan dan pemeliharaan Tuhan,” kata Welby yang dikutip The Telegraph.

Di Inggris sendiri, umat Kristen pada 2021 jumlahnya kurang dari setengah populasi Inggris dan Wales. Ini merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah sensus.

Sensus yang diterbitkan Kantor Statistik Nasional menunjukkan bahwa 46,2 persen populasi (27,5 juta orang) menggambarkan diri mereka sebagai Kristen. Jumlah ini turun 13,1 persen dari semula 59,3 persen atau sekitar 33,3 juta orang pada 2011.

Sebuah perkumpulan Kristen bernama Sahabat Gereja Protestan di Berlin menerbitkan sebuah laporan tentang pengubahan sepuluh gereja menjadi masjid di Jerman beberapa tahun lalu. Laporan tersebut menyatakan bahwa fenomena ini bukanlah hal baru, tetapi berulang dan dilakukan dengan sengaja.

Namun ada pandangan lain yang memberi kritik atas maraknya penjualan gereja jadi masjid di Eropa. Ini berkaitan dengan menguatnya kelompok sayap kanan di sana, yang justeru memberikan celah lahirnya aksi anti imigran dan anti muslim.

Krisis Identitas
Sedangkan wartawan Mahmoud Zaki yang menulis di Arab Weekly menyebutkan, Eropa kini sedang mengalami krisis identitas, tidak hanya di tingkat politik dan ekonomi tetapi juga di tingkat agama dan ideologi.

Hal ini telah menyebabkan penurunan pembangunan gereja dan penutupan sekitar 250 gereja setiap tahunnya karena menurunnya jumlah jemaat.

“Isu pengubahan gereja menjadi masjid telah menjadi isu sensitif antara Timur dan Barat selama lebih dari 1.000 tahun. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa, seiring dengan menurunnya keterikatan warga Eropa pada keyakinan Kristen mereka, saatnya telah tiba bagi umat Muslim untuk berkembang. Namun, konflik historis antara Islam dan Kristen telah lama terkait dengan isu-isu martabat dan kemenangan,” tulisnya.

Sementara partai-partai sayap kanan secara khusus menargetkan imigran Muslim dengan dalih yang lemah untuk mengambil langkah-langkah pencegahan terorisme dan menghentikan ancaman terorisme dari kelompok-kelompok Islam ekstremis.

Amrou Farouk, seorang ahli tentang kelompok-kelompok Islam politik, mengatakan bahwa masalah transformasi identitas sebuah bangunan dari satu agama ke agama lain telah menjadi hal yang kompleks selama ratusan tahun dan terus membayangi.

“Umat Kristen masih menyimpan kenangan akan gereja Kekaisaran Bizantium di Turki, Hagia Sophia, yang telah diubah oleh umat Muslim menjadi masjid, bahkan setelah hampir 200 tahun, dan umat Muslim terus bermimpi untuk menghidupkan kembali masjid-masjid mereka di Granada, Cordoba, Malaga, dan Seville, yang semuanya telah diubah menjadi gereja,” kata Farouk.

Farouk mengatakan Muslim di Eropa harus dewasa menghadapinya. “Ini adalah kartu yang suatu saat akan digunakan untuk melawan Muslim di Eropa,” kata Farouk.

Tidak mungkin memisahkan antara isolasi komunitas Muslim di masyarakat Eropa dan meningkatnya kebencian anti-Muslim yang didukung kuat oleh sayap kanan ekstrem yang semakin mendekati kekuasaan di banyak negara Eropa. (CNNI/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here