AS Minta Negara-negara Tangguhkan Pasokan Senjata ke Myanmar

Ilustrasi patroli Tentara Myanmar di pengungsian Rohingya di Rakhine/ VOA

WASHINGTON – Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley pada hari Kamis (28/9/2017) meminta negara-negara untuk menangguhkan pemberian senjata ke Myanmar atas kekerasan terhadap Muslim Rohingya sampai militer memberikan tindakan pertanggungjawaban yang memadai.

Ini adalah pertama kalinya Amerika Serikat menghukum para pemimpin militer di balik penindasan tersebut.

“Kami tidak dapat takut untuk menyebut tindakan pihak berwenang Birma seperti apa adanya, sebuah kampanye yang brutal dan berkelanjutan untuk membersihkan negara dari sebuah etnis minoritas,” Haley mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB.

“Militer Burma harus menghormati hak asasi manusia dan kebebasan fundamental. Mereka yang telah dituduh melakukan pelanggaran harus segera dikeluarkan dari tanggung jawab komando dan diadili karena melakukan kesalahan, “kata Haley.

“Dan setiap negara yang saat ini menyediakan senjata ke militer Birma harus menangguhkan kegiatan ini sampai ada tindakan pertanggungjawaban yang memadai,” kata Haley, dilansir Reuters.

Penasihat keamanan nasional Myanmar Thaung Tun mengatakan di PBB pada hari Kamis bahwa tidak ada pembersihan etnis atau genosida yang terjadi di Myanmar. Dia mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa Myanmar telah mengundang Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk berkunjung. Seorang pejabat PBB mengatakan bahwa Guterres akan mempertimbangkan untuk mengunjungi Myanmar dalam kondisi yang tepat.

China dan Rusia sama-sama menyatakan dukungannya terhadap pemerintah Myanmar. Myanmar mengatakan awal bulan ini bahwa pihaknya sedang melakukan negosiasi dengan China dan Rusia, yang memiliki hak veto di Dewan Keamanan, untuk melindunginya dari kemungkinan tindakan dewan tersebut.

Advertisement