WALAU masih jauh “panggang dari api”, pertemuan antara pemimpin tertinggi kedua bangsa serumpun, Presiden Korsel Moon Jai-in dan Presiden Korut Kim Jong Un menggumpalkan asa baru terwujudnya perdamaian di Semenanjung Korea.
Walau belum menyentuh isu utama yakni perlucutan program rudal balistik dan nuklir Korut, janji-janji yang dilontarkan Jong Un paling tidak membangkitkan optimisme baru terwujudnya perdamaian yang selama ini seolah-olah terkubur.
Masih berstatus dalam keadaan perang sejak Perang Korea (1951 – 1953) yang melibatkan AS dan koalisi internasional di bawah PBB di belakang Korsel melawan Korut yang didukung China dan Rusia, kedua negara terlibat ketegangan dan diwarnai saling ancam.
Korut di tengah himpitan ekonomi, kemiskinan bahkan kekurangan gizi dan kelaparan yang dialami mayoritas warganya, bergeming atas protes dan tekanan internasional termasuk aksi embargo, melakukan uji coba rudal balistik dan nuklir yang sangat menguras devisa negara.
Tentu yang paling berbahagia jika perdamaian benar-benar terwujud adalah rakyat Korut, selain membayangkan bakal keluar dari himpitan ekonomi, mereka juga mendambakan kehidupan lebih “normal”, tidak seperti saat ini.
Berbagai aturan yang tidak lazim diberlakukan di bawah rezim otoriter komunis dinasti Kim turun temurun, misalnya dilarang mendengar atau menyaksikan tayangan musik, lagu-lagu atau sinetron dan film Korsel dan Barat, bahkan model potongan rambut pun diatur.
Sebaliknya, Korsel, juga tetangga lainnya, Jepang, terus memperkuat diri, menyiapkan senjata penangkal dan melakukan latihan militer rutin bersama dengan AS sehingga memicu berangnya para pemimpin Korut.
Lima juta orang tewas, lebih separuhnya warga sipil akibat Perang Korea yang diawali dengan penyerbuan mendadak tentara Korut didukung tentara China ke wilayah Korsel.
Presiden Donald Trump sambut baik
Presiden AS Donald Trump yang biasanya temperamental dan “meledak-ledak” menghadapi ulah pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong Un, kali ini optimistis Kim serius dan tidak berniat mempermainkan komunitas internasional, terutama negara-negara di Semenanjung Korea.
Pertemuan antara Trump dan Jong Un dijadwalkan akan digelar akhir Mei atau awal Juni, kemungkinan di salah satu negara netral, Singapura.
Paus Fransiscus memuji kedua pemimpin Korea yag sudah berani membuat komitmen terkait upaya perdamaian dan perlucutan senjata nuklir di Semenanjung Korea.
China juga menilai, perlucutan senjata jika terwujud diharapkan akan membuka era pembangunan baru di kawasan tersebut, namun mengingatkan, untuk mewujudkannya, deklarasi Korut dan Korsel harus diikuti rencana kongkret.
Bahkan PM Australia Malcolm Turnbull memuji negosiasi yang dilakukan Trump untuk menyatukan kedua Korea, dan Australia berjanji membantu AS mengrimkan pesawat-pesawat militer guna memantau kapal-kapal Korut yang diduga mengangkut barang-barang illegal yag dikenakan DK PBB.
Namun sejumlah pengamat kecewa, karena menilai, kesepakatan antara Korut dan Korsel tidak menyebutkan kerangka waktu, referensi terkait verifikasi dan definisi yang jelas terkait perlucutan senjata nuklir.
Iran yang saat ini berseberangan dengan AS juga menganggap skeptis keterlibatan AS dalam prakasa damai Korsel dan Korut karena mengangggap AS bukan negara yang bisa dipercaya dalam perundingan.
Terlepas dari berbagai kepentingan dan pandangan yang berbeda, penduduk Korut pasti yang paling mendambakan terwujudnya perdamaian. (AP/AFP/Reuters/NS)





