Asa Persepakbolaan Indonesia Membuncah Lagi

Squat PSSI U-16 meluapkan euforia kemenangan saat melakukan victory laps menjadi juara AFF 18 (11/8) setelah menekuk kesebelasan Thailand 4 -3 dalam adu penalti, sementara Target Tim PSSI U-23 untuk masuk semi final AG 18 cukup berat.

HARAPAN para pecandu sepakbola di tanah air menyaksikan prestasi PSSI di tengah paceklik panjang prestasi cabang olahraga rakyat tersebut muncul lagi setelah Tim PSSI U-16 merebut juara Piala AFF disusul kemenangan Tim U-23 di babak penyisihan Asian Games ke-18 melawan Taiwan.

Di ajang Piala AFF sejak bernama Piala Tiger pada 1996, kesebelasan Indonesia belum pernah menjadi juara, kecuali kali ini. PSSI U-16 pada Piala Tiger 1996 cukup puas menduduki posisi keempat, kemudian pada event berikutnya (1998) menempati urutan ketiga. Posisi runner-up diraih tim U-16 selama lima kali Piala UFF (2000, 2002, 2004, 2010 dan 2016).

Pada laga final antara Tim PSSI U-16 dan kesebelasan Thailand yang menjadi langganan juara (lima kali) di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Sabtu (11/8), Indonesia memang 4 – 3 dalam adu penalti, sekaligus untuk pertama kali memboyong piala AFF.

Squad asuhan Fakhri Kusaini ini cukup menjanjikan karena diisi sejumlah talenta dengan kepiawaian mengolah bola dan semangat pantang menyerah dalam setiap pertandingan seperti diperagakan oleh duet kembar penyerangnya, Bagas Kaffa dan Bagus Kaffi. Tim U-16 Indonesia ini juga meraih nilai sempurna dengan memenangi seluruh pertandingan sejak babak penyisihan hingga ke tangga juara.

Selang sehari setelah kemenangan tim U-16 di AFF 2018, di stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Minggu (12/8) “Garuda” kembali mengepakkan sayapnya. Tim PSSI U-23 menang telak 4 – 0 melawan kesebelasan Taiwan yang memang tidak diunggulkan, di babak penyisihan Asian Games ke-18.

Walaupun pemirsa TV atau penonton langsung sempat dibuat gregetan karena timnas banyak menyia-nyiakan peluang emas di babak pertama, akhirnya semua lega, berhasil melibas squat Taiwan yang agaknya sekelas di bawahnya.

Tentu target tim asuhan Louis Milla untuk mencapai semi final di AG 18 sangat berat mengingat sepakbola di piala AG ke-18 diikuti raksasa-raksasa Asia seperti Jepang, China, Korsel, belum lagi tim-tim dari Timur Tengah, Asia Tengah dan sesama Asia Tenggara.

Prestasi tim PSSI senior sejak sepakbola dipertandingkan di ajang AG pada 1951 memang tidak moncer. Menurut catatan, PSSI hanya pernah menjadi juara keempat pada 1954 dan juara ketiga (medali perunggu) pada 1958.

Sementara di ajang SEA Games, tim “Garuda” pernah menjadi juara pada 1987 dan 1991, namun setelah dipersyaratkan pertandingan diikuti tim U-23 sejak 2001, pencapaian terbaik hanya sampai runner-up yakni pada 2011 dan 2013.

Jalan terjal bagi squat Garuda U-23 untuk masuk ke semi final AG 18, namun ibarat pepatah “sebelum mati pantang berkalang tanah”, masyarakat tetap menaruh harapan agar mereka mampu mengukir prestasi setinggi mungkin.

Advertisement