
KEMATIAN tiga penduduk Dusun Jati, Candirejo, Kec. Semanu, Kab. Gunung Kidul, DI Yogyakarta (4/7) merupakan alarm bagi petugas terkait, peternak dan penduduk untuk mewaspadai paparan penyakit antraks yang menyerang ternak.
Sejauh ini, kata Dirjen Pencegahan dan pengendalian Penyakit Menular (P2P) Kemenkes, MaxiI Rondonuwu (5/7) pihaknya belum memperoleh info adanya penambahan kasus positif Antraks, karena baru diketahui ada pasien suspek antraks, Â namun belum dinyatakan positif.
Ketiga warga kampung tersebut diduga tewas karena positif terpapar antraks setelah mereka menggali ternak yang sudah dikubur lalu mengolahnya untuk dikonsumsi. Satu diantara tiga korban teridentifikasi positif antraks, sementara dua lainnya meninggal dengan gejala antraks.
Sementara Kabidkes Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab. Gunung Kidul Retno Widyastuti menyebutkan, paparan antraks di wilayahnya diduga akibat tradisi brandu  yang dilakukan warga.
Brandu adalah tradisi pengumpulan iuran oleh warga untuk diserahkan pada pemilik ternak yang ternaknya sakit atau mati, lalu daging hewan tersebut dibagikan pada orang-orang yang telah mengumpulkan iuran.
Antraks sendiri disebabkan oleh bakteri bacillus anthracis yang dapat menular dari hewan ke manusia dan menyebabkan kematian walau sejauh ini belum ada kasus penularan dari manusia ke manusia.
Hewan dapat terinfeksi melalu kontak kulit, saluran pencernaan (termakan atau terminum) serta saluran nafas (terhirup) yang mengakibatkan meningitis, menyerang paru, kulit dan saluran pencernaan manusia.
Hewan yang terpapar menularkan penyakit ke manusia jika terjadi kontak kulit dengan hewan atau produk hewan, mengosumsi daging hewan yang terinfeksi tanpa dimasak secara sempurna atau terhisap spora antraks dari kulit atau bulu hewan.
Gejalanya a.l. ruam, benjolan dan rona kemerahan pada kulit, demam, lemas, diare, mual dan muntah, radang tenggorokan dan sulit bernafas.
Penyakit antraks pertama kali terdeteksi di Kolaka, Sulawesi Tengah pada 1832, lalu belasan warga Bogor meninggal setelah mengosumsi daging ternak yang terinfeksi pada 1967 dan enam warga meninggal terjangkit antraks di Sumbawa, NTB pada 1977.
Lalu, dua orang meninggal dan 19 orang dirawat akibat terpapar antraks di Bogor pada 2001, delapan tewas dan enam sakit setelah korban menyantap daging kerbau yang mati mendadak di Sumba Barat, NTT tahun 2007 dan kasus teranyar, Â tiga warga Kab. Gunung Kidul meninggal karena positi antraks pada awal Juli 2023.
Sosialisasi harus dilakukan mulai dari tingkat RT sampai kelurahan agar warga tidak mengosumsi ternak yang terpapar antraks, apalagi tidak diolah secara benar (matang sempurna).




